Sabtu, 27 November 2010

- Yang Terhempas dan Mulai Usang -

oleh Ismet Soelaiman pada 23 Maret 2009 jam 11:19
 
Pada awalnya adalah kebimbangan..., bimbang akan nasib yang senantiasa diolah sang waktu...
Sang waktu yang selalu dan selalu menggerogoti relung hening katak sadaran-ku...
Ketak sadaran yang menghempas ku ke ruang hampa kenikmatan semu...
Semu...yang adalah labirin kehidupan...

Akhirnya kutemukan kembali kepingan nadi jati diri yang sempat muspra dibungkus buih buih ke khilafan...
Se'ongok khilaf yang disengaja...
Aku Menulis lagi...

Hari ini, ada yang masih seperti hari kemarin...
Kemarin adalah tanya yang tak jua sempat terjawab...
Jawaban akan keresahan dan galau hati pada ritme sang waktu...
Sang waktu yang ganas menggilas...
Gilas segala kejayaan masa yang terlewat...
Kejayaan ???
Yah...Hanya Sekedar kejayaan semu...

Aku menulis lagi...
Aku...
Yang Terhempas dan mulai usang...
Usang dijilat sang waktu...

(Senin, 23 mart 09...hari yang serba tak pasti) 

Nestapa Yang Usang

oleh Ismet Soelaiman pada 05 Juni 2010 jam 3:34
 
Telah larut kutulis penggalan asa ini..
Pagi sebentar lagi kan jelang..
hujan baru saja reda...
Dan kau telah lelap..

Hening...Sepi...Senyap...
Kaulah yang pertama...
demikian lantunan bait dari suara berat Romeo..
perlahan mengusik 1/4 pagi..
kepulan asap masih jua kuhembus..
satu...satu...satu...

Jazirah kecil ini...
Yang dipaksakan untuk menjadi sejuta jumlah penduduknya oleh badan statistik...
semakin ramai dengan kunjungan para petinggi (termasuk Militer) dari Jakarta...juga Amerika...
Disana sini terdengar decak kagum dan puja puji pejabat lokal...
juga riskannya, termasuk beberapa akademisi dan intelektual lokal...
Ini adalah sebuah kebanggaan..
mungkin demikian hayal mereka...

Sementara media lokal tak pernah meliriknya dari sudut tanya...
Ada apa gerangan...
Ada apa...

Mereka menyambut dengan gegap gempita...
segelintir orang yang telah menjarah dan memperkosa kesucian Bunda Halmahera...
Mereka bangga menyambut...mereka bangga...

Yah, mereka bangga...
Karena mereka jauh dari warga Haltim yang dirampas tanahnya...
Warga Gebe yang di keringkan daratannya...
Warga Halut yang di racuni tanah dan sumber-sumber kehidupannya...
Yah, mereka menyambut dengan bangga...
Segelintir orang yang melegitimasi kebiadaban itu...

Mereka memang terlampau jauh dan tak peduli
dengan para korban lumpur lapindo...
Warga Buyat Pante yang tergusur dari kampung halamnnya...
mereka terlampau jauh...
juga terlampau tuli dan buta...
tuk mendengar jeritan pilu para korban...
tuk melihat beratnya beban hidup yang mesti ditanggung...
untuk setiap inci kebiadaban itu...

Nestapa negeri ini...
Nestapa Jazirah Al-Mulk...
Masihlah...
Nestapa yang Usang...

- Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2010 -
(Itevsky)

Iseng :p

oleh Ismet Soelaiman pada 10 Juli 2010 jam 21:02
 
Tepat dihadapanku saat tadi...
seorang wanita dengan body sintal,
jeans ketat,
kaos hitam yang juga ketat,
Tanpa pelapis,
Sesekaliu menunduk,
menampilkan sepenggal belahan yang ranum,
dengan dihiasi rambut-rambut halus,
berjejer rapi,
seolah menawarkan diri tuk...
dielus...
hanya sesekali...
namun membekas...

dia, mungkin juga mereka...
para belia yang cantik dan montok itu...
mungkin lupa...
bahwa, hayal dan imaji,
tak terbatas ruang dan waktu...
bisa mengembara...
hingga ke pedalaman
yang paling terlarang...

semuanya ingin dipamerkan..
sebab kebaya itu kaku dan kuno...
tidak trendy...
yang tertutup itu tak seksi
dan..
tak seksi itu
tak gaul...
maka beramai-ramailah mereka bunting..
di usia dini...

salahkah itu...
salahkah mereka...
salahkah sang penghayal...
salahkah sang pengarang...

entahlah...
bukankah kini saatnya era keterbukaan ???
maka...
marilah kita saling buka-bukaan...

(catatan iseng, 10 juli 2010, depan ternate Mall...barusan saja banyak gadis cantik, yang masih belia juga seksi dan terbuka :p)

Pagi bersama Abah Pemulung

oleh Ismet Soelaiman pada 10 Juli 2010 jam 22:09
 
Dengan wajah ceria, dipanggulnya karung plastik yang berukuran besar...
Pagi itu, jumat 08 juli 2010, warga Malifut sementara mempersiapkan diri tuk hearing dengan DPRD HALUT.
Sendiri, kubaca koran pagi...
di Ternate, kantor yang senantiasa kosong tanpa staf di pagi hari...

ia lewat...
Abah sang pemulung plastik...
jari-jari tangannya pokol...
terlihat, bekas tergerus ganasnya kusta...

berhenti sejenak...
menatapku...
tidak...
bukan menatap ku...tetapi 2 botol air kemasan yang telah kosong...
yah..itulah yang ditatapnya...

tertunduk...
mengais dedaunan di depan pagar kantor...
menatap lagi...
kali ini dengan tatapan ragu...

ia kupanggil masuk...
enggan ia melangkah...ragu...
silahkan diambil abah...
silahkan...ucapku...

senyum...
ia tersenyum...
Sang Abah yang mengaku merantau dari ambon...
kini usianya telah memasuki paruh 60-an...

Kuberikan secangkir kopi...
tak ia sentuh...

terima kasih...
saya hanya butuh botol kosong ini...
ucapnya...

berapa harga sekilo plastik-plastik itu abah...
tanyaku...

seribu rupiah...
jawabnya...

sontak, air dalam mulutku muncrat...
seribu rupiah ucapku mengulangi...

berapa anaknya Abah...
tanyaku lagi...

satu, cewe. masih kecil umur 11 tahun...
jawabnya...
tersenyum...
yah senyuman yang indah penuh keikhlasan...

saya permisi...
terimakasih...

ia berlalu, tanpa menyentuh cangkir kopi yang kusajikan untuknya...
seribu rupiah, untuk sekilo plastik yang ia kumpulkan...
kucoba menghitung, berapa jumlahnya jika karung plastik ukuran big itu penuh dengan botol air kemasan yang kosong...
tak sampai 10 kilo...

saya hanya mencari sampai tengah hari...
biasanya dapat botol air kemasan yang masih berisi...
juga beberapa rejeki yang terkumpul dijalanan...
belum terlalu kotor, dan sayang kalau dibiarkan percuma membusuk dimakan ulat...
kisahnya tadi sebelum berlalu...

seribu sekilo...
berapa yang ia dapatkan dalam sehari...
itulah tanya awal yang mengundang kegelisahanku...

betapa congkaknya daku ini...
dipagi hari, kocekku sering bolong 15-an ribu, hanya untuk rokok, kopi dan kue...
tengah hari bisa sampai 20-an ribu untuk makan dan minuman dingin...
sore hari, 10 ribuan hanya untuk pisang goreng dan segelas kopi suset...
malam hari 20-an ribu untuk nasgor ditambah sebungkus lagi rokok...

hebat...
betapa congkaknya daku ini....
sementara sang abah pemulung tadi...
dalam sehari, 10 ribuan belum tentu ia gapai...
tapi ia tetap tersenyum...
senyum yang indah penuh keikhlasan...

aku hanya butuh botol plastik kosong ini...
bukan secangkir kopi...
sederhana memang...
namun dalam penuh kebijakan...

teringat pesan almarhum ayahandaku...
orang punya-orang punya...
ngana punya-ngana punya...
....................................
hanya untuk bilang,
jangan serakah anakku !!!
sederhana...
tapi dalam dan bijak...

(Bersama abah pemulung, jumat 08 juli 2010, pagi hari yang cerah)

Biarkan Aku Memuji dikau hai Istriku...

oleh Ismet Soelaiman pada 19 Oktober 2010 jam 17:13
 
ketika dikau mulai terlelap..dan segala keheningan menyapa..
hentakan tuts keyboard ku pun melemah...
secangkir kopi telah kau sediakan.., juga sarung dan jaket...
dan malam semakin larut...

kucoba menulis lagi...merangkai yang terbengkalai...
rekam jejak yang terlewati...
aku kehilangan kata...itu ucap ku beberapa hari kemarin padamu...
dan kau pun sayu...

cita, asa dan juga harap.., senantiasa tetap tumbuh terjaga...
tentang perubahan..tentang daulat rakyat kuasa...
meski fitnah dan amarah, jua terus mendera kehidupan kita...
segelintir orang...yah hanya mereka berdua yang terus menggembosi..
berusaha menaikkan citra diri..sebagai pahlawan...
di atas penderitaan dan perjuangan warga Buyat...
dan...Kau dan aku istriku...
yang bersalah atas kegagalan itu...
menjadi penghianat atas keringat, darah dan air mata yang sempat tercucurkan...
di sana..di teluk yang sempat kita diami beberapa waktu...

tak mau kupanjang lebar...namun, sedih juga melihat dikau senantiasa digerogoti...
digerogoti dengan permintaan klarifikasi dari "kawan" bukan "teman" dekat kita...
ku pun mengalaminya istriku yang baik...
dijauhi..bahkan ditinggalkan beberapa kawan dekat...
menjadi linglung dengan sapaan kemunifikan yang dipaksakan dalam forum yang sempat kuhadiri...
namun.., tak apa istriku...
terkadang memang sudah seperti inilah hidup...
dan kita mesti jalani...
jangan biarkan padam, bara cita, asa dan harap akan lahirnya perubahan...
jangan...jangan pernah...
teruslah pupuk dan semaikan ia...jaga dan teruslah merawatnya...
sebab...hanya satu keinginan mereka berdua...
kau dan aku istriku...lari meninggalkan segala yang pernah kita citakan...
bergabung pada ritme hidup kaum pecundang...

bagiku...
sudah cukup nasi yang dikau tanak tuk sajian di meja makan...
dan secangkir kopi pahit, di meja kerjaku...
cukup pula bagiku, melihat mu senantiasa membaca koran di pagi hari dan kompas di saat sore menjelang..
melantunkan suara merdumu serta bergitar dengan ku di beranda kantor kala malam telah tiba...
berdiskusi dan berdebat tentang kerja-kerja gerakan yang sedang kita bangun...
semua itu sudah sangat teramat lebih dari cukup, untuk tugas seorang istri yang kau hadiahkan padaku...
Tak perlu bagiku segala keraguan mereka atas fitnah yang digulirkan padamu..juga aku..
kau dan aku...

Istriku yang baik...
Anugrah Tuhan yang indah buatku...
marilah kita terus berjalan...
berjalan hanya dengan diam...
meski Tuhan, kata Gunawan Muhamad, terkadang tak bersahabat dengan Diam...
..................................................................................................
Bukankah kau dan aku senantiasa percaya hai istriku...
bahwa Tuhan senantiasa tidak hanya sang Maha Kebisuan...

lelap...
kau semakin terbuai dalam tidurmu...
dan, rangkaian kata ini mulai berakhir...
dalam labirin kehidupan malam...
Biarkan aku memuji dikau, hai istriku...
Aku adalah suamimu...

........................................................................................tepat di kaki Gamalama, 14 oktober 2010...........
........................................................................................Untuk mu istriku "Lita" yang baik, tetap rawat bara itu...
 

:: sekedar bernostalgia ::

oleh Ismet Soelaiman pada 15 Oktober 2010 jam 3:02
 
Sekam kan nyala...karena bara tak pernah padam..
dan generasi pun berganti...
bara itu..bara yang lahir di pondok kayu...
tiap jam 03 subuh...mesin-mesin pabrik kan ribut...
dan ritme kehidupan pun dimulai..
dari sebuah pabrik tahu...tempat tinggal kami..
kala itu...
kala Rezim sangat mutlak berkuasa...

jam 03 subuh...dan papan-papan reyot kan ber geretak...
Memuai, kata sahabatku...
sementara riuh rendah pedagang kecil, senantiasa meramaikan suasana...
mengatur perlengkapan dagang mereka, di sepeda jengki...
dan menjajakannya...
kami hidup bersama mereka...
tapi hanya om Didi yang mampu menjadi bagian dari mereka...

Malfin menjadi Pekerja pemerintah...
Demikian pula Japra...
Andaman masih melanglang buana di belantara kalimantan, bersama suku dayak pedalamannya..
Sapto, pasca Aceh, menjadi petambak ikan yang gagal terus panennya...
Yasir jadi peternak bebek...
Om Didi jadi petani bunga + peternak ayam Arab...
Kang Giex jadi penyelam...
Aji jadi tukang bicara keliling tentang transformasi ide...
Ite back ke WALHI...
dan Dino, entah jadi apa...katanya jadi juragan speed boat, tapi boatnya milik orang..
Chipeng lebih baik sedikit nasibnya, karena bisa jadi dosen..
Mira, baguslah bisa jadi pegawai bank...
Om Yani, juga sedikit beruntung bisa jadi pekerja pemerintah...
sementara Tato, jadi pengusaha travel...

kami dari pondok kayu tempat pabrik tahu dan pedagang kecil bermukim..
pernah bercita-cita merubah keadaan negeri...
dulu..ketika idealisme adalah dengan moncong bedil...
silih berganti pondok kayu kami tempati...
dan bara itu pun tercipta...

kini...sekian waktu telah menggerus keadaan...
dan bara itu tetap terjaga...
meski tak lagi semerah kala itu...
tapi, masih tetap terjaga...
hingga generasi baru, mau merawatnya...
merawat di bawah sekam...
sambil sesekali meniupnya, agar ada setitik nyala...
untuk saat dan moment yang tepat...
membakar semua sekam, agar kobarnya menghanguskan yang mesti dihancurkan...

adakah demikian sahabat...
ah semoga saja hanya igauan pagi...
sekedar bernostalgia...

...........................................15 okt'2010................
......tepat di kaki Gamalama.....berharap adanya generasi...
semoga bukan sekedar harapan usang...........................
 

...............!!!.................

oleh Ismet Soelaiman pada 16 Oktober 2010 jam 2:27
 
Malam ini tak mampu kumenulis lepas...bebas...
membiarkan jemariku menari mengikuti alam imaji...
ada benteng yang membendung...
ada kegelisahan yang membuncah...

kata maaf yang lama kucari, hadir sudah ke permukaan bumi...
lama kupandangi layar kecil dihadapanku...
lama...hingga perih mata ini...
3 batang dji sam su habis sudah...
dan ampas kopi yang ku seruput...
tak menyisakan rasa pahit...

Lagi...sang kebisuan merongrong makna...
dan embun pagi pun bertengger di pelupuk mata...
hening...layaknya penghujung malam kemarin...

tengadah langit...
mata terpejam...
nafas berhembus....
.....................................................
......................................................
..................................Terima kasih......
atas segala maaf mu...............................

>> Subuh di kaki Gamalama<<
- Hening Meraup Sejuta Makna -
...........16'okt'2010............