Senin, 04 Juni 2012

MASIH DI HARI YANG SAMA

masih dihari yang sama, penghujung sabtu, 21 april 2012, pukul 23.35 wita, corong informasi kembali berbunyi, mengumumkan bahwa 1 jam lagi KM. Sinabung akan merapat di Dermaga Banggai. Bongky terlelap dengan nyaman, Ical menggantikan posisiku dengan Lita di lorong ruang nginap para pembesar Sinabung, tempat kami menumpang charge segala peralatan elektronik yang kami miliki. Ido masih sibuk naik turun keliling kapal mencari sang buah hatinya Tuty, yang sekonyong-konyong lenyap. Mendes, alen dan Dino, lebih memilih menghabiskan malamnya di ruang kavetaria dek 7 bagian belakang. Sementara Eros, baru usai menghabiskan waktunya di ruang teater dek 2, menonton film tentang perselingkuhan. Iji, yang hampir luput dari pantauan, ternyata berada di ruang karaoke dengan dandanan parlente, menonton lomba menyanyi antar kru kapal, dalam rangka memperingati harlah Pelni. Sarfan dan Tuty, akhirnya diketahui berada di bagian depan, dibawah tangga anjungan, sementara asyik mengisi TTS.

pukul 22.00 wita tadi, Lita sempat menemani Tuty ke Poliklinik yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat kami. dokter yang memeriksa Tuty mengaku dulunya anak Mapala Undip, dan dia mengenal Walhi. vonisnya, Tuty terkena radang tenggorokan, karena terlalu banyak menghirup asap rokok. tapi menurutku, selain asap rokok, Tuty juga pasti masuk dingin. hari kemarin, sarfan juga sempat mengalami demam, saat rombongan kami baru naik ke kapal. pola tidur dan makan yang tidak teratur selama seminggu di arena PNLH, mulai membuahkan hasil. beberapa pasukan mulai bertumbangan.

10 menit setelah pengumuman, aku bersama Lita keluar ruangan, duduk nyantai di pagar kapal dek 7, tepat dibawahnya tertulis, "dilarang duduk diatas pagar kapal", hehehe, tapi kami berdua cuek saja. Lita, kawan diskusi yang juga adalah istriku, mencoba mengimbangi celotehanku tentang hal-hal yang menyangkut persoalan PNLH XI Walhi di Balikpapan yang telah lewat. "Aku menggugat", igauku padanya, sambil memandang jejeran cahaya lampu di ujung kegelapan malam. "Menggugat apa?", tanya Lita, yang juga mengarahkan pandangannya pada kerlipan cahaya di ujung kegelapan. "Menggugat keteledoranku, sejak awal mula persiapan menghadapi even PNLH ini mulai dideklarasikan 3 bulan lalu". Hening, tak ada balasan darinya. corong informasi kembali berbunyi, "30 menit lagi Kapal Sinabung akan merapat di dermaga Banggai". Diskusi kami terputus, karena dek 7 bagian luar tempat kami menikmati malam, mulai ramai dipenuhi penumpang kapal yang lain.

Pukul 00.20, pengumuman kembali berbunyi, " ABK Dek siap muka belakang, kapal sandar kiri, kapal sandar kiri", lalu kami berdua kembali ke ruangan bagian dalam, tempat dimana segala barang bawaan dan kasur kami berada. Kulepas pengait pintu dan membiarkannya tertutup, hanya untuk menjaga kemungkinan lenyapnya harta benda kami oleh tangan-tangan usil. ingat pesan bang napi, kejahatan terjadi karena ada kesempatan, Waspadalah, waspadalah !!! dan kapal pun sandar di pelabuhan Banggai.



*(Edisi Yang Tercecer di Lautan)

Jumat, 29 Juli 2011

- SAKiT -

Senantiasa kubaca, dan kubaca setiap keluh itu. Tergambar dalam tiap helaan kata yang berhembus membisikkan sakit. Terkapar dalam selimut yang membaluti tubuh lemah, kau senantiasa bernyanyi tentang harapan hati. Juga galau yang terpendam. Sakit itu membunuh asa, tapi tak mematikan jiwa. Demikian pula cinta.

Hujan membasuh daratan tempatku berdiam malam ini. Malam dimana aku membaca guratan itu. Di seberang, lantunan nada dan suara Iwan Fals dan Fadli Padi memecah kebisuan. Temui cinta, lepaskan rasa.

Ingin rasanya berlagak bak seorang nabi, menuntun umatnya ke jalan yang ia yakini sebagai ruang kebenaran. Namun, tak cukup teori dan pengetahuan, serta tak punya pula diriku akan kitab yang disucikan, pula kalimat bijak dan fatwa penunjang yang menunjang daku tuk berlagak. Yang kupunya hanyalah hati, melonjak menari dalam kebebasan. Melihat, mengamati, lalu menuliskannya kembali. Seperti malam ini, melihat catatan keluh mu itu, ingin rasanya ku menjadi seorang nabi.

Sakit memang terkadang membuat kita apatis memandang hidup. Demikian pula atas cinta yang mulai menjauh. Sang ego senantiasa menguasai diri. Penguasaan yang sering kita nafikkan keberadaannya. Ketika kita lemah, karena eksternality diri, yang menopang bagian jiwa kita berlalu dari keseharian dan kebersamaan, sang ego kan berontak, menjatuhkan kita sampai pada titik kesedihan yang tak terperi. Ternyata rasa cinta dan kepemilikan, bukanlah kita peruntukkan pada bagian hidup yang terpisah dari internal diri, melainkan rasa yang mesti hadir akibat tuntutan ego. Kita mencintai diri kita sendiri, yang tak mau lemah dan kehilangan kepemilikan. Sakit itu, menjadi sakit diri yang tak ingin ditinggalkan olehnya.

Mungkin tidak untuk dikau, yang saat itu terbaring lemah di pelataran ruang ber cat putih, saat para pekerja berseragam, mulai mengutak - atik tubuh lemahmu. Imajimu berkisah, kau tak kan lagi memilikinya, karena terpuruk dalam sakit yang terus menggerogoti paruh waktu hidup. Mencuri sebagian harta tubuh, sebagai bagian dari identitas kewanita-an. Imajimu melahirkan goresan keluh, dan tanpa disengaja aku membacanya.

Satu yang kukagumi, kau terus menulis. Menulis dengan wajah yang senyum, meski hati galau dalam ringisan nasib. Temui cinta, lepaskan rasa. Temui cinta dalam dirimu, dan lepaskanlah rasa. Sebab, sang cinta yang menyakiti, senantiasa bersembunyi dengan tenang dalam internality jiwa. Kenyataan itu pahit, kenyataan itu sangatlah pahit...teriak Iwan Fals dalam sesuatu yang tertunda..., namun tak senantiasa mesti terus membuat kita terpuruk dalam keluh...

--------------------------- Kaki Gamalama yang basah di gerbang ramadan 30 juli 2011 (Itevsky*)

AsaP

Asap itu kubiarkan mengepul, sambil jemariku terus menekan huruf di perangkat mini ini. Semua yang tertulis, berlalu ibarat asap yang terlepas dari bara api racun kapitalisme yang terselip di kedua belahan bibir hitamku.

Aku pernah menulis kawan, mungkin malam ini sedikit melankoli, juga sekedar romantisme..bahwa, jika tuhan itu ada, jika ujian hidup adalah bagian dari wujud cinta kasih tuhan pada umatnya, maka aku berani meyakini Tuhan lagi jatuh cinta kepadaku. Dengan irama kasih sayangNya, Ia - Sang Pemegang Kuasa Hari Akhir Itu, sedang bermain - main dengan panah amor dalam kehidupanku akhir-akhir ini.

Seperti asap, wujud itu nampak, lalu lenyap muspra tertelan angin. Jika, cobaan adalah ujian hidup, sementara ujian hidup adalah perwujudan cinta kasih Tuhan pada UmatNya, maka kuyakin, tuhan lagi kasmaran padaku..Adakah kau ?

Asap itu masih mengepul...

Sosok Imaji

Kawan, dalam sebuah perjalanan pulang dari sebuah kampung nun jauh di pelosok timur nusantara, sempat kusaksikan sosok imaji yang pernah mengganggu alam hayal kita dulu. sosok gadis desa berkain bebat..

Yang kumaksud dengan imaji, ia - gadis itu, kudapati baru saja usai melakukan ritual mandinya di aliran bantaran sungai. Kau ingat bukan, ketika kita bicara tentang tetralogi nya bung pram..bagaimana dengan bahasa yang lepas namun anggun ia menggambarkan sosok seorang tokoh wanitanya..aku tak pandai merangkai kata untuk moment yang satu ini. Yang kuingat, ia - gadis desa berkain bebat, dengan rambut basahnya yang dibiarkan terjuntai, hanya melemparkan senyum, lalu berlalu dalam senyum tertunduk dari pandanganku.

Yah, sejenak aku sadar, ia gadis desa berkain bebat itu, adalah sosok imaji, yang pernah hadir dalam dialog hayal kita dulu...

NafaS

Bung, pernahkah dalam paruh waktu hidupmu ini, sejenak memperhatikan hembusan nafas mereka yang lelap dalam buaian mimpi ? Jika belum, cobalah luangkan waktu untuk itu..,

Disana, kan kau dapati ribuan kisah tentang hidup. Tarikan nafas itu, lalu terhembus.. Perulangan dalam tempo yang sejajar, dengan hitungan waktu yang tak tentu..
Bukan dengkuran yang kubicarakan..tetapi nafas. Ya nafas, bukan dengkuran..karena dengkuran hanyalah pengabaian fokus dalam bentuk bunyi..tapi nafas, ya, nafas yang mesti kau perhatikan..

Ia - nafas itu, sangatlah sepele. Namun, dari yang sepele itu, bisa kita maknai bersama berjuta kedalaman ilmu yang termaktub didalamnya.

Jasad yang montok, ganteng, cantik, aduhai, berotot, dlsb. Gelar yang tinggi menjulang, harta yang berlimpah, serta kesuksesan yang gemilang..muspra bagai buih tanpa nafas..

Nafas, dari lelapnya seseorang, kita bisa dalami makna kehidupan..disitu tergambar peta kebenaran..

TakuT

Tumpukan majalah Tempo, yang telah rapi ditata oleh Dino diatas meja kerjaku, tak serapi isi kepala yang semakin liar menerawang dalam ketakutan. Takut adalah balance keberanian. Dan, memandang hidup untuk beberapa waktu kedepan, balance keberanian itu, senantiasa menghantui detak nadi keseharianku.

"Selamat datang di dunia nyata", demikian kata seorang kawan, usai kuucapkan ijab kabul pada 24 juli 2010, di kediaman orang tua istriku, kala itu. Ya, dunia nyata, tak senantiasa seirama dengan alam hayal. Ia-alam nyata itu, memiliki ritmenya sendiri. Dengan segala kemajemukannya, lebih sering menjungkir-balikkan impian dan harapan yang dibangun. Alam nyata, senantiasa butuh kesabaran, keteguhan dan gerakan tuk menembus labirin kehidupan.

Takut, menjadi lebih sering hadir membayangi rasa dalam jiwa-jiwa kerdilku. Takut-ku, bukan karena rekening gendut kepala daerah dengan sketsa sosok berpakaian pejabat pemerintah yang menggenggam celengan babi buntal, pada cover depan majalah Tempo edisi 25-31 juli 2011. Takut ku-signifikan bedanya dengan itu. Berbeda pula dengan ketakutan dipecat Golkar karena mendukung Nasdem. Beda, karena aku tak mahfum politik praktis, juga tak jadi bagian atas kedua dagelan itu. Aku bagian yang terlepas dari keduanya, namun merasa takut, sama seperti substansi yang dikejar oleh kedua judul berita itu.

Ketenarankah ? Atau, kekayaan ? - juga bukan keduanya. Ketakutan yang membayangi, adalah ketakutan tak memiliki alat tukar dalam hubungan sosial balas jasa. Takut-ku, takut semu. Takut kehilangan esensi makna atas kata tanggung jawab-sebagai ini, sebagai itu, dan sebagai bagai lainnya. Takut-ku, takut yang hadir membayang karena undangan dari rasa khawatir menjalani hidup di waktu muka. Takutku-takut akan bayang-bayang masa semu.

Sabtu, 02 Juli 2011

SELAMAT JALAN SANG PEJUANG

Award Lingkungan Hidup WALHI MALUT buat Pendeta Tjantje G. Namotemo
Oleh: Ismet Soelaiman
Eksekutif Daerah WALHI MALUT

Indonesiaku masih tegak
Karena doa orang – orang tertindas
Yang didengar Tuhan
Karena Doa mereka
Menembus ketujuh petala langit
Tanpa hijab

Penggalan puisi yang mengawali tulisan ini, adalah buah tinta Syaiful Bahri Ruray (Ko’ Ipul), dengan judul Atas Nama Rakyat, merupakan salah satu puisi dari kumpulan puisi Mata Hati dan Nafas Kehidupan (Pustaka FOSHAL, 2005). Bagi saya, puisi adalah nyanyian hati, sebuah bahasa sastra dengan kandungan berjuta makna. Mengalir tanpa kemunafikan, sesuai rasa yang lepas tanpa bungkus topeng kamuflase ke-genitan intelektual (jika memang demikian sebuah karya sastra itu mesti lahir). Tulisan ini tak bermaksud menggugat penggalan puisi diatas, karena hal yang sama pun saya yakini, bahwa negeri ini masih tegak, karena rakyatnya masih mau mengakui dan bernaung didalamnya. Karena, kami – yang adalah bagian dari rakyat itu, masih mau mencintainya.

Merah putih masih berkibar, diujung perahu sebuah sampan nelayan. Meski, atas nama Negara, sebuah investasi pertambangan harus memaksa mereka mengungsi dari kediaman tanah leluhur. Itulah akhir dari rekaman film documenter Bye – Bye Buyat. Lalu, dalam bait berikut dari puisi Atas Nama Rakyat, tinta Ko’Ipul bergumam, “Seandainya tanpa mereka (rakyat – pen), dan tinggal hanya para elit saja yang berasyik masyuk bertikai untuk kepentingan diri dan kelompok semata, maka kuyakin Indonesiaku telah lama tiada, karena tercabik – cabik oleh perseteruan elit yang tiada habisnya”, closing bait.

Yah, sang Elit di negeri ini sangat hobi bertikai. Dan “kita” hanya terlongo menjadi penonton bisu yang setia. Tapi, bukan elit yang ingin saya bahas dalam tulisan ini. Saya hanya ingin mengabarkan, bahwa di Jazirah Maluku utara, seorang rakyat – Pejuang Lingkungan Hidup telah lebih dulu menggapai kedamaian disisi Sang Pencipta. Adalah Bapak Pendeta Tjantje G. Namotemo (Pak Pendeta). Untuk itu, kami – Keluarga Besar WALHI, mengangkat topi dan membukuk sedalam – dalamnya dengan penuh keikhlasan.

SANG PEJUANG DALAM SECUIL REKAM JEJAK

“Saat itu, jumlah massa rakyat, cukup banyak. Mencapai ratusan orang yang menduduki Hutan Adat Soa Pagu di Toguraci, lokasi operasi PT. NHM, pada tahun 2004. Lalu tertembaklah si Rusdy Tunggapi, dan ia pun meninggal. Saya dan rekan – rekan disuruh jalan jongkok. Lalu beberapa orang dari kami, termasuk saya, dibawa ke Kepolisian Ternate. Sampai akhirnya kami bebas dan balik kembali ke kampung,” bertutur Pak Pendeta, suatu sore di pelataran rumahnya di Desa Balisosang. Saat itu kalender Masehi menunjukkan bulan februari 2010, saya dan beberapa kawan menyempatkan diri berkunjung di rumahnya.

Pak Pendeta bertutur lugas, tanpa sedikitpun kesan heroisme, tergambar dari raut wajahnya yang teduh penuh ketegasan itu. Tidak seperti (maaf) sebagian kalangan “aktivis” muda (juga saya tentunya) yang berkisah tentang heroisme aksi jalanan kami. Ia hanya bertutur tentang hak rakyat yang mesti direbut, dan kewajiban Negara (state apparatus) yang mesti dituntut. “Karena kita adalah pemilik syah republic ini dan merupakan bagian dari terbentuknya sebuah Negara, bukan begitu ?”, demikian kalimat Tanya penuh ketegasan, yang sering ia sampaikan kepada kami.

Ketika menulis catatan Award ini, saya teringat akan kisah suku Inca, yang ditulis dengan apik oleh Kim Macquarrie, dalam bukunya; Hari – Hari Terakhir Bangsa Inca (Kompas Gramedia, 2010). Buku setebal 583 halaman itu, menceritakan cukup banyak kisah dari keterdesakan suku Inca oleh keserakahan Bangsa Spanyol atas kilauan emas di zaman itu. Ada banyak tokoh yang diulasnya, namun disini, saya hanya mengutip, bagaimana Manco Inca akhirnya menjadi kaisar boneka, setelah kakaknya Atahualpa, yang merupakan kaisar pertama meninggal dibunuh Spanyol. Ketika Manco Inca mulai resah dengan keberadaan Spanyol yang terus menerus menjarah emas suku Inca, serta ingin mempersunting istrinya, Sang Manco bertanya kepada Kompeni Spanyol, sampai kapan mereka akan berada di daerahnya. Kompeni Spanyol menjawab, “biar gunung dan daratan kalian berubah menjadi EMAS, kami tidak akan pernah puas dan kami tidak akan meninggalkan daerah ini”. Lalu sang Manco Inca bangkit melawan, mengusir para kompeni Spanyol yang menjajah dan menjarah emas dinegeri mereka. Meski akhirnya mereka tetap kalah dan hilang dari peradaban bumi, namun yang terpenting adalah mereka tak tinggal diam dalam penjajahan, mereka bangkit melawan.

Namun Pendeta bukanlah Manco Inca. Bapak Pendeta adalah seorang Putra Pagu, yang dilahirkan dengana nama Tjanje G. Namotemo, pada 6 maret 1954 di Desa Balisosang. Senantiasa memilih hidup dan mengabdi di tengah – tengah masyarakatnya. Membangun kebun kecil di pelataran rumahnya, agar fungsi tanah sebagai sang pemelihara kehidupan senantiasa menjadi makna siraman rohani kesehariannya. Menjadi Tokoh masyarakat, yang senantiasa teguh memperjuangkan permasalahan aras bawah rakyat Balisosang, dan mereka yang senantiasa dirampas haknya.

Saya tak mau lancang melampaui rasa kebersamaan Pak Pendeta dengan keluarganya. Tapi dalam beberapa sesi paruh waktu dalam kehidupan, kami sering berbincang, baik itu secara langsung, maupun via telpon karena terpisah jarak. Atas inisiatifnya, di bulan juni 2010, saya bersama beliau, serta dua orang kawan sempat ketemu dengan beberapa anggota legislative Halut di Tobelo untuk menyampaikan persoalan warga Balisosang. Beliau pula di bulan juni 2010, yang meminta WALHI MALUT untuk mengirimkan surat resmi untuk hearing dengan pihak legislative Halut, terkait persoalan warga Balisosang.

Pada tanggal 19 maret 2010, lewat telepon, ia menyampaikan tentang pipa tailing PT. Nusa Halmahera Mineral’s (NHM), yang terlepas dan menumpahkan limbah tailingnya, pada 18 juni 2010 pukul 19.00 malam – 08.00 WIT pagi hari. Beliau bersama para tokoh masyarakat serta aparat Desa akan mengirimkan surat protes ke Bupati Halmahera Utara. Dan surat itu kemudian dilayangkan pada tanggal 23 maret 2010, dengan nomor: 660.3/01/2010, yang ditandatangani oleh tokoh masyarakat serta aparat Desa Balisosang.

Pada bulan oktober 2010, Beliau mendapat undangan via WALHI MALUT, untuk hadir dalam salah satu event di Mataram, namun kesehatannya mulai menurun. Pak Pendeta tak bisa menghadiri event tersebut, karena harus istirahat di rumah sakit. Beliau tak pernah tahu, betapa di Mataram, Ia telah menjadi seorang sosok, yang ingin dijumpai oleh banyak pihak, tuk sekedar menimba pengalaman dari tutur kisahnya. Teringat, sejak saat itu, rumah sakit menjadi tempat langganan untuknya beristirahat, melawan penyakit yang terus menggerogoti paruh waktu hidupnya. Meski dalam keadaan terbaring sakit, Beliau masih menyempatkan waktu tuk berdiskusi pada tanggal 20 oktober 2011, terkait penyusunan surat protes atas pernyataan Mentri Lingkungan Hidup tentang NHM.

Pada tanggal 12 februari 2011, saat hari telah gelap, Pak Pendeta kembali menghubungi kami. Karena saat itu sedang ada sedikit kerjaan, saya langsung menjawab telponnya dengan mengucapkan Salam dalam Islam, Pak Pendeta menjawabnya juga dalam Islam. Sesaat saya sadar, lalu meminta maaf, karena sudah menjadi kebiasaan, beliau menjawabnya dengan ramah, “mengutip Gusdur, yang penting adalah maknanya,” ucap Pak Pendeta. Sederhana, namun bijak. Malam itu, beliau kembali mengabarkan tentang Pipa Tailing PT. NHM yang terlepas lagi untuk kali kedua, yang terjadi pada tanggal 3 februari 2011, pada jam 11 malam. Pak Pendeta terus mengabarkan kejadian – kejadian di kampung, yang merugikan masyarakatnya.
Pada bulan April 2011, dua orang kawan wartawan dari Harian Kompas dan Tempo, tertarik tuk mengangkat profil sang pendeta. Mereka ke Desa Balisosang, tapi tak menjumpainya, karena pada saat itu, beliau kembali harus beristirahat di Rumah Sakit Tobelo. Kawan wartawan dari Kompas, masih meneruskan upayanya untuk mewawancarai Sang Pendeta di Tobelo, namun mungkin karena nasibnya kurang beruntung, meski sudah di Tobelo, ia tak menjumpai Sang Pendeta. Bapak Pendeta Tjante yang penuh keikhlasan, tak pernah tahu, jika Ia telah menjadi seorang sosok. “Saya hanya mau bersama warga memperjuangkan hak kami,” demikian ucapnya, suatu ketika dipertengahan april 2011, saat ia harus ke Jakarta, untuk memeriksa kesehatannya. Saat itu, Beliau menjadi salah satu dari 3 perwakilan masyarakat lingkar tambang di Indonesia, yang diundang dalam even Public Hearing on CSR & ASEAN, pada tanggal 02 mei 2011 di Jakarta. Namun, event tersebut juga, tak bisa Ia hadiri, karena factor kesehatan yang sudah tidak memungkinkan.

Tanggal 03 juni 2011, dengan bahasa yang sudah semakin lemah, ia masih mau mengabarkan kepada kami, tentang pipa limbah NHM yang bocor untuk ketiga kalinya. Tanggal 4 juni 2011, kami masih berdiskusi dengan beliau terkait dengan kondisi warga dikampung, serta meminta mandat apa yang mesti dilakukan oleh WALHI MALUT. Surati Mentri Lingkungan Hidup, itu langkah yang mesti diambil. Tanggal 5 – 6 juni 2011, ketika Surat ke Mentri Lingkungan Hidup sudah selesai dan siap dikirimkan, Pak Pendeta sudah tak bisa lagi dihubungi. Jumat Siang, tanggal 10 juni 2011, kabar duka itu kami terima, Bapak Pendete Tjanje G. Namotemo telah kembali dengan kedamaian dalam pangkuan Bapa di Surga.

UNTUK SEGALA PERJUANGAN MU

Banyak kisah suram dan ketertindasan rakyat di lingkar investasi skala massive dan padat modal, yang tak terekspose ke public. Panjang pula kisah perjuangan mereka, hanya untuk sekedar meraih kedaulatan atas sumber – sumber penghidupan yang sehat dan bersih dari kotoran limbah. Namun, tak sedikit pula perjuangan itu menjadi bola panas yang asyik dimainkan oleh para elit dan orang tertentu, tuk meraih kemewahan pribadi. Inilah letak kelemahan mental inlander dari wajah negeri yang semakin rapuh dikuasai asing.

Namun, tidak buat Pendeta Tjanje G. Namotemo. Terlalu banyak fakta dan kisah perjuangannya bersama warga, yang tulus dan ikhlas tuk sekedar meraih kedaulatan atas sumber kehidupan. Ia tak pernah tahu, mungkin juga peduli, jika ia telah menjadi seorang sosok. Sosok Pejuang Lingkungan Hidup, dimata Berry Nahdian furqon (Direktur eksekutif Nasional WALHI), Riza Damanik (Sekjend Kiara), Kusnadi W Saputra (Sekjend SHI), Mba Alien (Dewan Nasional WALHI), serta kawan – kawan penggiat Lingkungan Hidup yang lain. Beliau hanyalah seorang Pendeta, yang senantiasa membangkitkan semangat perjuangan lewat Khotbah – Khotbahnya (pengakuan warga Balisosang 2 hari setelah kepergiannya).

Untuk segala perjuangan mu, penuh keikhlasan kami tundukkan badan. Selamat jalan Pejuang Lingkungan Hidup dan Hak asasi Manusia. Semoga semangat perjuangan mu terus mengalir pada darah generasi kami.

“Indonesiaku masih tegak, jelas bukan karena hasil karya para elit. Tetapi semua itu dilakukan atas nama orang tertindas, yang bernama rakyat. Lalu benarkah itu ?”, demikianlah tiga bait terakhir bahasa hati Ko Ipul yang tertoreh Atas Nama Rakyat. Pertanyaan bisu, butuh jawaban bisu. Wassalam.

.