Senin, 06 Mei 2013

KALAODI


Perkampungan Kalaodi yang berada di daratan tinggi Pulau Tidore

Berada di ketinggian ± 900 mdpl, terdapat pemukiman penduduk yang masih hidup bersandar pada ritual budaya dan keasrian alam. Hutan rimbun yang rapat, disela-sela tanaman agroforestry, seperti pala, cengkeh dan durian senantiasa menjadi pemandangan yang indah ketika kita menginjakkan kaki di pemukiman ini. Kalaodi, demikian nama kampung tersebut, berada di Pulau Tidore – Maluku Utara, yang menurut beberapa tetua kampung berasal dari kata SeKalaodi yang dimaknai ‘memberikan petunjuk atau jalan yang benar’.

Kalaodi yang memiliki luas wilayah 8 x 8 km, pada tahun 2012 didiami oleh 454 penduduk, dengan 105 kepala keluarga, dimana 85% adalah petani kebun. Terdapat empat dusun, yakni RT I Dola sebagai pusat pemerintahan, RT II Kola berada di sebelah barat, RT III Golili di sebelah utara, dan RT IV Suwom di sebelah timur. Selain pemerintahan negara, hidup dan berlaku juga sistim pemerintahan adat yang dipimpin oleh seorang Sowohi atau pimpinan adat. Tradisi upacara adat dan kearifan budaya yang masih hidup serta mengakar kuat dalam keseharian warga, menjadi landasan realita ditemukannya struktur kelembagaan adat dan tatasistem nilai budaya di Kalaodi. 

Upacara adat yang masih dilaksanakan adalah Paca Goya, atau pembersihan tempat keramat, yang dipimpin oleh Suwohi. Tiga hari selama prosesing upacara berlangsung, Kalaodi dalam keadaan hening, tanpa bunyi-bunyian, termasuk suara kendaraan bermotor. Paca Goya dilaksanakan berdasarkan niatan warga kampung. Biasanya setelah usai panen, sebagai wujud syukur atas limpahan berkat yang diterima.

Ada juga tradisi gotongroyong yang disebut Bari, Marong, dan Galasi. Ungkapan Bari  digunakan secara umum untuk gotongroyong dalam segala hal, mulai dari pembukaan lahan perkebunan, membangun rumah dan yang lain. Marong merupakan kelompok kerja dalam pembukaan lahan kebun. Galasi merupakan gotong royong pembukaan lahan kebun dengan menggunakan sistim hitungan jam pasir (pasir sangrai yang diisi dalam botol seperti hitungan waktu zaman dulu). Jika pasir di bagian botol atas sudah kosong, maka pekerjaan dinyatakan selesai.

Penghargaan terhadap struktur lembaga adat, melahirkan harmonisasi kehidupan antara warga Kalaodi dan alam sekitar. Pelarangan penebangan pohon dan penggundulan hutan karena bisa berdampak pada erosi dan banjir di wilayah pesisir Tidore, yang di cetuskan oleh pemerintah desa sejak tahun 1974, diperkuat oleh bobeto adat. Bobeto merupakan fatwa, perjanjian, atau sumpah yang dikeluarkan oleh struktur lembaga adat yang ada, dimana sangat ditaati sebagai hukum tetap yang tak bisa dilanggar. Sejak itu, proses pembukaan hutan untuk lahan perkebunan di Kalaodi, setelah pembersihan, diwajibkan untuk menanam tanaman tahunan lebih dulu, seperti pala dan cengkeh sebelum menanam palawija. 

Potensi sumberdaya alam yang dimiliki oleh kelurahan Kalaodi pada tahun 2012 berdasarkan luas tanaman pangan, meliputi jagung seluas 6 Ha dengan hasil 1,5 Ton/Ha, kacang panjang 02, Ha dengan hasil 0,5 Ton/Ha, ubi kayu dengan luas 6 Ha dengan hasil 10 Ton/Ha, luas lahan untuk cabe 1 Ha dengan hasil 2,5 Ton/Ha, bawang merah dengan luas lahan 03 Ha dengan hasil 1,5 Ton/Ha, lahan untuk tanaman tomat 1,5 Ha dengan hasil 1,5 Ton/Ha, ketimun 0,5 Ha dengan hasil 1 Ton/Ha serta sayur lilin 4 Ha dengan hasil 1 Ton/Ha.

Selain itu, ada pula komoditas buah-buahan diantaranya mangga 2 Ha dengan hasil 3 Ton/Ha, durian 35 Ha dengan hasil 3 Ton/Ha, sedangkan luas tanaman perkebunan diantaranya kelapa 3 Ha, kebun pala 30 Ha sedangkan cengkeh 67 Ha. Untuk potensi lainnya bamboo dengan luas lahan 17 Ha, enau dengan luas lahan 15 Ha sedangkan melinjo seluas 15 Ha.

Sistim pengelolaan perkebunan di Kalaodi, terbagii menjadi lahan perkebunan desa, perkebunan pemuda, dan perkebunan warga. Untuk kebutuhan pembangunan desa non alokasi anggaran pemerintah, seperti pembangunan pagar kampung merupakan sumbangsih hasil dari kebun pemuda. 

Kalaodi sejak 1960-an, telah memperhitungkan persoalan keterbatasan lahan akibat dari penambahan jumlah penduduk, sehingga sebagian warga dipindahkan ke beberapa tempat, baik di Pulau Tidore sendiri, maupun di daratan Halmahera. Perpindahan ini berlandas pada perintah Sultan Tidore saat itu, agar warga membuka lahan pemukiman dan perkebunan baru, sebagai ruang produktifitas ekonomi, selain untuk menjaga kelestarian alam di Kalaodi. Perpindahan warga berdasarkan kesepakatan marga dilakukan dengan sangat sistimatis, dimana tiap keluarga harus tersisa satu yang tetap berdomisili di Kalaodi. Dengan demikian, “pohon turunan” keluarga, tetap terjaga di kampung tersebut.

Kearifan dan keserasian hidup antara manusia dengan alam yang terdapat di Kalaodi ini, menjadi faktor pendorong yang menggerakkan Kelompok Sahabat Alam, salah satu Organisasi Non Pemerintah Maluku Utara yang berdomisili di Tidore, melakukan pendampingan dan belajar bersama warga sejak tahun 2010. Proses belajar bersama ini kemudian menjadi putaran diskusi di WALHI MALUKU UTARA. 

Letak Kalaodi yang berada di punggungan bukit sebuah pulau kecil, dengan hutan yang masih padat, serta ketersediaan air melimpah, tentu memiliki peranan yang sangat penting dalam konsep bioregion (hulu dan hilir). Tradisi budaya yang masih hidup dan berjalan hingga kini, ditengah terpaan arus modernisasi zaman, ketika hutan dan bahan tambang menjadi sector primadona pembangunan pemerintah, Kalaodi hadir sebagai antithesis bahan pembelajaran untuk penyelamatan hutan dan lingkungan hidup di Maluku Utara- Indonesia - maupun global. Bahwa masyarakat yang hidup di lingkar hutan, ternyata memiliki kearifan sendiri dalam menjaga tatanan sistem ekologi yang ada.

DAMAI PAPUA KU

Papua, masih merupakan pengalihan isyu yang seksi dari rezim ke rezim (kecuali kepemimpinan Gusdur). Gusdur pada masa kepemimpinannya, berusaha menyatukan pecahan rasa yang selama 32 tahun diciptakan oleh rezim otoriter Suharto, dengan langkah damai dan persuasif. Sayangnya terlalu banyak faksi, sehingga mudah dipecah belah dengan menyulut rasa perbedaan, yang telah sekian lama terpendam. Amarah dan amuk massa menjadi alasan untuk kembalinya proses represifitas itu dimainkan kembali di tanah Papua. dan Gusdur, Sang Fenomenal itu pun harus ditumbangkan.
Jika Papua terus saja menjadi objek pengalihan isyu atas kebobrokan sistim kepemimpinan di negri ini, kuyakin suatu saat tak mampu dimanage bara sekam itu. Persatuan memang seolah sulit tergapai di bangsa Papua, namun bukan berarti momentum takkan tercipta sebagai triger tuk menuju ke arah sana. 
Saat itu terjadi, dan bisa jadi dengan melihat kondisi Indonesia yang semakin sakit ini, momentum itu kan datang jua, lalu masih adakah kata sakti NKRI itu ?

Damai Papua ku, jangan kalian sakiti yang tak mengerti, mereka hanya mencari hidup, walau rambut dan kulit mereka berbeda dengan kita, mereka juga bagian dari skenario segelintir orang yang duduk nyaman merampok kekayaan SDA kita di pusat kekuasaan, baik di Jakarta maupun di tanah Papua sendiri.
Mereka itulah musuh yang sebenar-benarnya musuh yang harus kita hancur leburkan !

Senin, 04 Juni 2012

Minggu, 22 april 2012, 'Tegang'

Setelah 3 jam berada di Pelabuhan Bitung yang cukup meresahkan, akhirnya pengumuman itu keluar juga, satu jam lagi KM Sinabung akan melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Ternate. Para buruh, pedagang asongan dan pengantar pengunjung diminta untuk segera turun dari atas kapal. Stom 2 kali pun mengaung ke udara Bitung yang telah sesak dengan asap pabrik.

Beberapa penggalan cerita yang tak sabar kutuliskan sejak tadi adalah tentang buruh bagasi, pedagang asongan dan pencopet, yang sempat membuatku tegang selama 3 jam tadi, hingga tak kuasa mencatat penggalan kisah tersebut.

Saat kapal Sinabung sandar di Dermaga Bitung, Dino, Bongki, Ical, Eros dan Mendes menjadi relawan untuk berdesakan melawan arus para buruh, agar bisa ketemu dengan Aldo, yang telah menyiapkan bekal makanan perjalanan kami menuju Ternate. Aldo telah menunggu di dermaga, sambil tak lupa membawa 'pentolan bakso' khas buatan tangannya sendiri. Tak lama perjumpaan Aldo dan kawan-kawan Malut. Kondisi kesehatannya kurang baik, maka setelah bekal makanan berpindah tangan, Aldo pun langsung pamit untuk kembali ke rumahnya.

Aldo adalah kawan baikku yang kini menjadi tulang punggung keluarga, sejak ayahnya meninggal 4 tahun yang lalu. Bisnis dagangan bakso, diambil alih olehnya. ketika kami masih sibuk mengatur agenda pendakian atau petualangan, Aldo sudah tak bisa lagi bergabung, karena seluruh waktunya habis untuk bangun di jam 4 subuh mencari daging sapi yang segar, meracik bumbu bakso, serta membuat puntelan bakso. Ibu dan adik perempuannya yang menjajakannya di pasar. waktu istirahatnya hanya siang hari, karena sore hari, ia mesti kembali bergantian dengan ibunya untuk menjaga warung bakso di halaman rumahnya di Girian Bawah-Kota Bitung.

Sementara itu, diatas kapal dek 7 lokasi basecamp kami, telah penuh dengan orang yang berseliweran. Ada yang mencari tempat, ada yang manawarkan dagangan, ada pula yang sekedar keluar masuk. Barisan penjaga basecamp kami kacau balau, karena Iji dan Alen disersi meninggalkan bunker mereka. Akhirnya, dua bunker di sisi utara yang kosong menjadi sasaran empuk para pencari tempat, juga para pencopet. Formasi pun berubah, Ido kuminta menjaga sisi Utara tepat di depan pintu, Tuty sisi Barat, sementara aku sisi Kanan dan Lita sisi kiri timur, yang tepat berada di tangga naik dan turun.
berpasang mata, banyak yang melirik kasur, juga tas. bahkan 5 orang secara terang-terangan berdiri dihadapan Lita dan terus memperhatikan Laptop serta Ipad yang berada disisinya. Hampir 10 menit mereka melakukan pshyteror, dengan bolak balik di lokasi basecamp sambil terus memperhatikan tas dan seluruh barang kami yang di tumpuk di empat bagian.

Ibarat Harimau, mereka terus mengawasi mangsanya, menunggu lemah dan lalai. 2 orang berdiri disisiku sambil terus menatapi tas dan barang bawaan kami. 2 orang lainnya berdiri di bawah tangga, seolah mencari ruang untuk bisa merogoh 2 laptop dan ipad yang memang tersandar di dinding kaca pembatas pagar, namun kemungkinan itu terrlampau sulit. Hal yang menjadi sulit adalah, aku tak bisa menuduh mereka pencuri, selama mereka belum tertangkap tangan mengambil barang kami. curiga boleh saja, tapi jangan menuduh, meski wajah mereka masih kukenali. orang-orang ini adalah pemain lama di pelabuhan Bitung, sudah sejak 7 tahun yang lalu, saat aku masih beraktivitas di Kota ini. Satu orang bahkan dengan tegas berjalan ke arahku dan menantang tatapanku. Kupikir polanya masih sama, 2 orang ciptakan keributan, mengalihkan perhatian dan kerumunan, sementara yang lain beroperasi mengamankan seluruh barang bawaan korban.

Jumlah mereka mulai bertambah menjadi 9 orang. 3 orang di pintu masuk dek 7, 2 orang di tangga, dan 4 orang berdiri di sisiku. Situasi basecamp semakin runyam, karena ada 2 orang penumpang laki-laki yang baru naik langsung menaruh tasnya di depan pintu dek 7 sebelah kanan, tepat dibawah kasur tempat tidur Eros dan Ido. tak lama berselang muncul lagi 5 orang perempuan menumpuk barangnya di tempat tersebut. 3 orang pedagang asongan juga turut meramaikan ruangan dek 7 yang hanya berukuran kurang lebih 3 X 10 M. Kusampaikan ke Lita agar selamatkan saja tas kuning yang berisikan logistik kami, serta tas laptop, jika terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. firasatku sudah sangat buruk, karena 3 orang kembali berjalan mengitari kami. Untunglah, disituasi yang kritis dan hampir meledak itu, Dino dan rombongan pemukul tiba di basecamp. Melihat jumlah kami lebih banyak (dengan muka yang sangar, karen tak mandi), akhirnya mereka meninggalkan basecamp, dan pergi entah kemana.

Kami melakukan evaluasi singkat, dan berbagi tugas. Ical menjaga tangga kanan, Eros tangga kiri, aku dan Dino di pintu keluar. Sementara Mendes, Bongki, dan Ido duduk santai diposisinya masing-masing. Iji, Alen dan Sarfan tak lagi kebagian tugas, karena desersi. mereka bertiga masuk kelompok bebas, tanpa perlu tahu skenario yang disepakati. Selain mereka bertiga, kami sepakat sebelum kapal berlepas dari dermaga Bitung, kami akan buat kerusuhan di atas kapal. Tak lama, setelah kesepakatan terbangun, keyakinanku terbukti, rombongan 7 orang aneh tadi kembali ke ruangan kami, berkeliling memperhatikan barang bawaan, seolah kami tak berada dalam ruangan itu. Psywar dibalas dengan psywar. Aku dan Eros bertelanjang dada langsung menuju tangga kapal, tempat mereka berkumpul, demikian pula dengan Ical. Ternyata, justru mereka yang lemah dan berlalu dari basecamp kami. situasi tegang, berangsur pulih. perasaan nyaman hadir kembali di basecamp Walhi Malut Dek 7 KM Sinabung.


*(Edisi Yang Tercecer di Lautan)

PUKUL 01.00 WITA

Pukul 01.00 wita, hari telah berganti. kini hari minggu, tanggal 22 april 2012, seorang anak kecil dengan panggulan karung di pundaknya, menarik perhatianku. 2 orang bocah, berlarian mengejar kawannya yang tadi. mereka berdua pun menenteng karung plastik, yang ternyata berisikan botol plastik bekas. KM Sinabung telah merapat di Pelabuhan Banggai. pedagang asongan berkaos merah, yang dibelakangnya tertulis "asongan" terus meneriakkan dagangannya.

Pelabuhan Banggai dalam rekaman memori perjalananku 11 tahun yang lalu, saat mengikuti even Prepcom di Bali, tepatnya tahun 2001, belum memiliki dermaga. Kapal yang kutumpangi saat itu hanya berlabuh. Kami masih bisa menyaksikan kepiawaian anak pesisir berloncatan dari kapal tuk berlomba mengejar uang koin seratusan yang dilemparkan ke laut.

Corong pengumuman tadi menginformasikan sesuatu yang baru dalam pendengaranku selama aku menumpangi kapal Pelni. bahwa, lama keberadaan kapal di pelabuhan banggai, tidak berdasarakan waktu, tapi tergantung penumpang yang turun dan naik. jika semua penumpang telah naik, maka kapal langsung bertolak meninggalkan pelabuhan. Hal yang menggelitik urat senyumku adalah, meski telah diumumkan berulang kali, agar pengantar, pengunjung, buruh bagasi, serta pedagang asongan segera turun dari atas kapal, namun mereka melakukan aksi tak mau turun. pluit petugas berbunyi tak henti, memaksa mereka untuk turun. hingga pengumuman ABK Dek siap muka belakang, kapal siap berangkat, berulang kali diumumkan, masih terlihat beberapa pedagang asongan menjajakan dagangannya.

Mendes, Eros, Ical dan Sarfan yang tadi bertindak sebagai relawan yang turun ke dermaga, telah kembali dengan tentengan tas plastik berisikan buras, suami (makanan khas sultra), serta ikan bakar. 12 orang pun bersantap dini hari penuh lahap. usai makan, ternyata Sinabung telah jauh dari dermaga. perjalanan kami lanjutkan menuju pelabuhan Bitung, dengan waktu tempuh 11 jam. saatnya lelap...



*(Edisi Yang Tercecer di Lautan)

MINGGU, 22 APRIL 2012

Minggu, 22 april 2012 pukul 08.00 wita, beberapa kawan masih terlelap, saat aku tersadar dari tidur malamku. Di sampingku, Lita tengah sibuk mempersiapkan alat mandinya. Pintu terbuka, Dino menampakkan wajahnya yang terlihat bingung, mungkin karena sendiri sejak pagi tadi. Dino memang yang paling dini terbangun sejak dulu. berbeda dengan 10 orang lainnya dalam rombongan Walhi Malut kali ini, termasuk juga diriku. Ido, Iji, Bongki, Mendes, alen dan Sarfan yang paling hobi menghabiskan umurnya di tempat tidur. Mereka tahan tidur berjam-jam, bahkan baru bangun sekalipun, mereka bisa kembali terlelap, untuk waktu yang cukup panjang. Ini salah satu faktor, kenapa Maluku Utara jarang dihitung dikancah pergerakan nasional. sebagian aktivisnya lebih senang membangun hayalan lewat mimpi di atas kasur.

Hal yang paling meresahkanku saat-saat diatas kapal adalah, waktu bangun tidur dan harus melakukan rutunitas mandi serta melepaskan kotoran tubuh. Kamar mandi dan WC di kapal ini sangat jauh dari kelayakan. Pintunya banyak yang rusak, sementara di dek 2, penumpang tak lagi peduli soal kamar mandi untuk wanita maupun pria. semua bercampur baur. dengan kondisi pintu yang tak bisa terkunci, sangat mengganggu kenyamanan orang yang akan melakukan ritual bersih tubuhnya. Sangat dipahami, persoalan ini bukan semata kelalaian pihak pengelola jasa perhubungan laut, tapi menurut amatanku, tingkat kesadaran kita sebagianjk penduduk Indonesia juga yang masih lemah, dalam hal merawat fasilitas publik. Selain kotor dan sering mampet, di kamar mandi juga ramai terjadi pencurian barang. Hal ini, yang membuat Mualim satu senantiasa tak bosan memperingatkan kepada penumpang untuk berhati-hati menjaga barang bawaannya. Pencurian di atas kapal juga cukup tinggi.

Usai mandi, aku bergabung dengan Lita, Dino, juga Bongki, yang telah santai menikmati laut di dek 7 bagian luar. Prediksiku, saat ini kapal Sinabung yang kami tumpangi telah berada di perairan Gorontalo. Karena telah kehabisan kaos, akhirnya kugunakan kaos biru bertuliskan WALHI  di dada, yang adalah milik istriku Lita. Sejak keberangkatan kami dari Balikpapan, kuperhatikan ada 7 orang dari kami yang tak pernah mengganti baju dibadannya. Mereka adalah, Iji, Alen, Ical, Mendes, Dino, Ido dan Sarfan. Baju yang mereka kenakan tak pernah berganti hingga kutemui pagi ini, selalu kostum Merah Walhi yang berisikan pesan di belakangnya, "Air - Energy - Pangan - Untuk Sebesar besarnya Kemakmuran Rakyat". Kembali pada diriku yang sedang menghadapi amukan Lita karena menggunakan kaos Walhi miliknya. Dengan muka tak berdosa, akhirnya kulepaskan kaos biru tersebut (karena memang sengaja mau kupamerkan otot dada dan perutku yang sixpack di muka publik, hahae :). Akhirnya akupun turut bergabung dalam barisan "Walhi Merah" pimpinan Iji. Barisan kaos "bau" yang telah 5 hari menempel di badan.

Pukul 09.20, Mendes masih terlelap layaknya sapi potong, demikian pula Eros, Sarfan, Ido dan Tuty. Sementara Aku, Lita, Dino, Iji dan Alen bersepakat menikmati pagi dengan secangkir kopi manis di ruang kavetaria dek 7 bagian belakang. Di kejauhan terlihat hutan yang gundul dan galian tambang di daratan panjang Pulau Sulawesi bagian Utara. 3 orang petugas kapal datang menghampiri kami, memeriksa tiket. Bersamaan dengan itu, di bagian belakang kanan kapal, satu perahu katinting muatan 2 orang sementara berjibaku dengan hempasan ombak dari KM Sinabung yang kami tumpangi. "Luarbiasa nelayan kita ini, begitu jauh mereka harus mengais rejeki, berjudi dengan laut, untuk menyediakan sumber protein di meja makan kita", celoteh Lita atas fenomena katinting tadi. Daratan cukuplah jauh dari posisi keberadaan kapal kami. "Mereka memang tangguh", ucap Iji menambahkan.

Kavetaria mulai ramai dengan kehadiran Eros dan Ical yang sudah terlihat segar usai mandi. Cerita tentang hari bumi mulai berkembang tanpa arah, karena Kartini pun ingin mengambil peran. Dino mengusulkan untuk menulis Propaganda di karung putih yang menjadialas tidur kami, kemudian berkeliling kapal. Lain lagi usulan Lita, menurutnya lebih baik kita minta ijin untuk menggunakan corong informasi, menyampaikan pesan-pesan tentang hari bumi, dan rusaknya ekologi. Hampir semua Kru kapal, termasuk Kapten dan Mualim hingga dokter di Poliklinik telah tahu, bahwa dalam pelayaran kali ini, terdapat rombongan penggiat Lingkungan Hidup dari Maluku Utara (sesekali berlagak besar dengan Walhi kan boleh juga to, hahae :). Lita dan Tuty bahkan diijinkan masuk ke ruang kemudi, yang aksesnya sangat terbatas bagi penumpang. Berdiskusi dengan kapten dan Mualim tentang Walhi, juga tentang hal ihwal bagian dalam ruang kemudi di anjungan kapal. Tapi, kuyakin apapun diskusi tentang hari bumi di ruang kavetaria ini, takkan berakhir pada langkah nyata aksi praksis diatas kapal.

"Ironisnya, Dinosaurus musnah karena faktor eksternal dirinya, kehidupan manusia terancam musnah karena sistim ekonominya sendiri (ekonomi kapital)", demikian penggalan status FB kawanku Pius Ginting pagi ini yang menggugat kalimat "Bumi makin tua dan Rusak adalah tidak tepat". Kawanku yang satu ini, memang luarbiasa kritis dan substantif dalam perspektif KeWalhi-an dalam memandang setiap moment.

Cuaca disebelah kanan kapal terlihat mendung, sementara di sisi kiri yang adalah bagian daratan Sulawesi, sangat terik dengan sengatan matahari. Suhu di kavetaria dek 7 mulai tak nyaman. Dino, Iji, Ical dan Alen memilih kembali ke basecamp, sementara aku, Eros dan Lita masih bertahan dengan suasana kafetaria yang mulai riuh dengan segala jenis lagu, layaknya pasar musik di stasiun 45 Manado. Mendes bergabung dengan kami bertiga. Rambut kribonya tetap tak rapi meski telah usai mandi, matanyapun masih terlihat merah :). Mendes hadir tidak untuk berdiskusi soal Hari Bumi yang jatuh hari ini, atau Hari Kartini yang jatuh hari kemarin, tapi sibuk menanyakan tawaran informasi kapal tentang makan siang :). Bukan Mendes tak peduli terhadap hari Bumi,tapi karena memang ia tak pernah tahu kapan hari lingkungan hidup, hari bumi, dan perayaan hari-hari lingkungan lainnya.

Tapi sejujurnya, bukan hanya Mendes, tapi semua yang ada dalam rombongan Walhi Malut kali ini tak mengetahuinya, selain aku dan Lita yang sudah sejak zaman kuliah dulu merayakannya dengan aksi-aksi jalanan. Hal ini menjadi wajar Karena mereka semua belum lama bersentuhan dengan even dan persoalan Lingkungan Hidup, sebelum bergabung dengan Walhi Malut.

Waktu menunjukkan pukul 11.45 wita, kurang lebih 2 jam lagi KM Sinabung yang kami tumpangi kan sandar di Dermaga Bitung. Telah ku kontak Aldo, kawan lamaku di Mapala dulu, untuk bisa menyediakan bakso buatan tangannya, serta sedikit bekal buat kami, dalam melanjutkan perjalanana sebentar nanti dari Bitung menuju Ternate.



*(Edisi Yang Tercecer di Lautan)

MASIH DI HARI YANG SAMA

masih dihari yang sama, penghujung sabtu, 21 april 2012, pukul 23.35 wita, corong informasi kembali berbunyi, mengumumkan bahwa 1 jam lagi KM. Sinabung akan merapat di Dermaga Banggai. Bongky terlelap dengan nyaman, Ical menggantikan posisiku dengan Lita di lorong ruang nginap para pembesar Sinabung, tempat kami menumpang charge segala peralatan elektronik yang kami miliki. Ido masih sibuk naik turun keliling kapal mencari sang buah hatinya Tuty, yang sekonyong-konyong lenyap. Mendes, alen dan Dino, lebih memilih menghabiskan malamnya di ruang kavetaria dek 7 bagian belakang. Sementara Eros, baru usai menghabiskan waktunya di ruang teater dek 2, menonton film tentang perselingkuhan. Iji, yang hampir luput dari pantauan, ternyata berada di ruang karaoke dengan dandanan parlente, menonton lomba menyanyi antar kru kapal, dalam rangka memperingati harlah Pelni. Sarfan dan Tuty, akhirnya diketahui berada di bagian depan, dibawah tangga anjungan, sementara asyik mengisi TTS.

pukul 22.00 wita tadi, Lita sempat menemani Tuty ke Poliklinik yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat kami. dokter yang memeriksa Tuty mengaku dulunya anak Mapala Undip, dan dia mengenal Walhi. vonisnya, Tuty terkena radang tenggorokan, karena terlalu banyak menghirup asap rokok. tapi menurutku, selain asap rokok, Tuty juga pasti masuk dingin. hari kemarin, sarfan juga sempat mengalami demam, saat rombongan kami baru naik ke kapal. pola tidur dan makan yang tidak teratur selama seminggu di arena PNLH, mulai membuahkan hasil. beberapa pasukan mulai bertumbangan.

10 menit setelah pengumuman, aku bersama Lita keluar ruangan, duduk nyantai di pagar kapal dek 7, tepat dibawahnya tertulis, "dilarang duduk diatas pagar kapal", hehehe, tapi kami berdua cuek saja. Lita, kawan diskusi yang juga adalah istriku, mencoba mengimbangi celotehanku tentang hal-hal yang menyangkut persoalan PNLH XI Walhi di Balikpapan yang telah lewat. "Aku menggugat", igauku padanya, sambil memandang jejeran cahaya lampu di ujung kegelapan malam. "Menggugat apa?", tanya Lita, yang juga mengarahkan pandangannya pada kerlipan cahaya di ujung kegelapan. "Menggugat keteledoranku, sejak awal mula persiapan menghadapi even PNLH ini mulai dideklarasikan 3 bulan lalu". Hening, tak ada balasan darinya. corong informasi kembali berbunyi, "30 menit lagi Kapal Sinabung akan merapat di dermaga Banggai". Diskusi kami terputus, karena dek 7 bagian luar tempat kami menikmati malam, mulai ramai dipenuhi penumpang kapal yang lain.

Pukul 00.20, pengumuman kembali berbunyi, " ABK Dek siap muka belakang, kapal sandar kiri, kapal sandar kiri", lalu kami berdua kembali ke ruangan bagian dalam, tempat dimana segala barang bawaan dan kasur kami berada. Kulepas pengait pintu dan membiarkannya tertutup, hanya untuk menjaga kemungkinan lenyapnya harta benda kami oleh tangan-tangan usil. ingat pesan bang napi, kejahatan terjadi karena ada kesempatan, Waspadalah, waspadalah !!! dan kapal pun sandar di pelabuhan Banggai.



*(Edisi Yang Tercecer di Lautan)

Jumat, 29 Juli 2011

- SAKiT -

Senantiasa kubaca, dan kubaca setiap keluh itu. Tergambar dalam tiap helaan kata yang berhembus membisikkan sakit. Terkapar dalam selimut yang membaluti tubuh lemah, kau senantiasa bernyanyi tentang harapan hati. Juga galau yang terpendam. Sakit itu membunuh asa, tapi tak mematikan jiwa. Demikian pula cinta.

Hujan membasuh daratan tempatku berdiam malam ini. Malam dimana aku membaca guratan itu. Di seberang, lantunan nada dan suara Iwan Fals dan Fadli Padi memecah kebisuan. Temui cinta, lepaskan rasa.

Ingin rasanya berlagak bak seorang nabi, menuntun umatnya ke jalan yang ia yakini sebagai ruang kebenaran. Namun, tak cukup teori dan pengetahuan, serta tak punya pula diriku akan kitab yang disucikan, pula kalimat bijak dan fatwa penunjang yang menunjang daku tuk berlagak. Yang kupunya hanyalah hati, melonjak menari dalam kebebasan. Melihat, mengamati, lalu menuliskannya kembali. Seperti malam ini, melihat catatan keluh mu itu, ingin rasanya ku menjadi seorang nabi.

Sakit memang terkadang membuat kita apatis memandang hidup. Demikian pula atas cinta yang mulai menjauh. Sang ego senantiasa menguasai diri. Penguasaan yang sering kita nafikkan keberadaannya. Ketika kita lemah, karena eksternality diri, yang menopang bagian jiwa kita berlalu dari keseharian dan kebersamaan, sang ego kan berontak, menjatuhkan kita sampai pada titik kesedihan yang tak terperi. Ternyata rasa cinta dan kepemilikan, bukanlah kita peruntukkan pada bagian hidup yang terpisah dari internal diri, melainkan rasa yang mesti hadir akibat tuntutan ego. Kita mencintai diri kita sendiri, yang tak mau lemah dan kehilangan kepemilikan. Sakit itu, menjadi sakit diri yang tak ingin ditinggalkan olehnya.

Mungkin tidak untuk dikau, yang saat itu terbaring lemah di pelataran ruang ber cat putih, saat para pekerja berseragam, mulai mengutak - atik tubuh lemahmu. Imajimu berkisah, kau tak kan lagi memilikinya, karena terpuruk dalam sakit yang terus menggerogoti paruh waktu hidup. Mencuri sebagian harta tubuh, sebagai bagian dari identitas kewanita-an. Imajimu melahirkan goresan keluh, dan tanpa disengaja aku membacanya.

Satu yang kukagumi, kau terus menulis. Menulis dengan wajah yang senyum, meski hati galau dalam ringisan nasib. Temui cinta, lepaskan rasa. Temui cinta dalam dirimu, dan lepaskanlah rasa. Sebab, sang cinta yang menyakiti, senantiasa bersembunyi dengan tenang dalam internality jiwa. Kenyataan itu pahit, kenyataan itu sangatlah pahit...teriak Iwan Fals dalam sesuatu yang tertunda..., namun tak senantiasa mesti terus membuat kita terpuruk dalam keluh...

--------------------------- Kaki Gamalama yang basah di gerbang ramadan 30 juli 2011 (Itevsky*)

AsaP

Asap itu kubiarkan mengepul, sambil jemariku terus menekan huruf di perangkat mini ini. Semua yang tertulis, berlalu ibarat asap yang terlepas dari bara api racun kapitalisme yang terselip di kedua belahan bibir hitamku.

Aku pernah menulis kawan, mungkin malam ini sedikit melankoli, juga sekedar romantisme..bahwa, jika tuhan itu ada, jika ujian hidup adalah bagian dari wujud cinta kasih tuhan pada umatnya, maka aku berani meyakini Tuhan lagi jatuh cinta kepadaku. Dengan irama kasih sayangNya, Ia - Sang Pemegang Kuasa Hari Akhir Itu, sedang bermain - main dengan panah amor dalam kehidupanku akhir-akhir ini.

Seperti asap, wujud itu nampak, lalu lenyap muspra tertelan angin. Jika, cobaan adalah ujian hidup, sementara ujian hidup adalah perwujudan cinta kasih Tuhan pada UmatNya, maka kuyakin, tuhan lagi kasmaran padaku..Adakah kau ?

Asap itu masih mengepul...

Sosok Imaji

Kawan, dalam sebuah perjalanan pulang dari sebuah kampung nun jauh di pelosok timur nusantara, sempat kusaksikan sosok imaji yang pernah mengganggu alam hayal kita dulu. sosok gadis desa berkain bebat..

Yang kumaksud dengan imaji, ia - gadis itu, kudapati baru saja usai melakukan ritual mandinya di aliran bantaran sungai. Kau ingat bukan, ketika kita bicara tentang tetralogi nya bung pram..bagaimana dengan bahasa yang lepas namun anggun ia menggambarkan sosok seorang tokoh wanitanya..aku tak pandai merangkai kata untuk moment yang satu ini. Yang kuingat, ia - gadis desa berkain bebat, dengan rambut basahnya yang dibiarkan terjuntai, hanya melemparkan senyum, lalu berlalu dalam senyum tertunduk dari pandanganku.

Yah, sejenak aku sadar, ia gadis desa berkain bebat itu, adalah sosok imaji, yang pernah hadir dalam dialog hayal kita dulu...

NafaS

Bung, pernahkah dalam paruh waktu hidupmu ini, sejenak memperhatikan hembusan nafas mereka yang lelap dalam buaian mimpi ? Jika belum, cobalah luangkan waktu untuk itu..,

Disana, kan kau dapati ribuan kisah tentang hidup. Tarikan nafas itu, lalu terhembus.. Perulangan dalam tempo yang sejajar, dengan hitungan waktu yang tak tentu..
Bukan dengkuran yang kubicarakan..tetapi nafas. Ya nafas, bukan dengkuran..karena dengkuran hanyalah pengabaian fokus dalam bentuk bunyi..tapi nafas, ya, nafas yang mesti kau perhatikan..

Ia - nafas itu, sangatlah sepele. Namun, dari yang sepele itu, bisa kita maknai bersama berjuta kedalaman ilmu yang termaktub didalamnya.

Jasad yang montok, ganteng, cantik, aduhai, berotot, dlsb. Gelar yang tinggi menjulang, harta yang berlimpah, serta kesuksesan yang gemilang..muspra bagai buih tanpa nafas..

Nafas, dari lelapnya seseorang, kita bisa dalami makna kehidupan..disitu tergambar peta kebenaran..

TakuT

Tumpukan majalah Tempo, yang telah rapi ditata oleh Dino diatas meja kerjaku, tak serapi isi kepala yang semakin liar menerawang dalam ketakutan. Takut adalah balance keberanian. Dan, memandang hidup untuk beberapa waktu kedepan, balance keberanian itu, senantiasa menghantui detak nadi keseharianku.

"Selamat datang di dunia nyata", demikian kata seorang kawan, usai kuucapkan ijab kabul pada 24 juli 2010, di kediaman orang tua istriku, kala itu. Ya, dunia nyata, tak senantiasa seirama dengan alam hayal. Ia-alam nyata itu, memiliki ritmenya sendiri. Dengan segala kemajemukannya, lebih sering menjungkir-balikkan impian dan harapan yang dibangun. Alam nyata, senantiasa butuh kesabaran, keteguhan dan gerakan tuk menembus labirin kehidupan.

Takut, menjadi lebih sering hadir membayangi rasa dalam jiwa-jiwa kerdilku. Takut-ku, bukan karena rekening gendut kepala daerah dengan sketsa sosok berpakaian pejabat pemerintah yang menggenggam celengan babi buntal, pada cover depan majalah Tempo edisi 25-31 juli 2011. Takut ku-signifikan bedanya dengan itu. Berbeda pula dengan ketakutan dipecat Golkar karena mendukung Nasdem. Beda, karena aku tak mahfum politik praktis, juga tak jadi bagian atas kedua dagelan itu. Aku bagian yang terlepas dari keduanya, namun merasa takut, sama seperti substansi yang dikejar oleh kedua judul berita itu.

Ketenarankah ? Atau, kekayaan ? - juga bukan keduanya. Ketakutan yang membayangi, adalah ketakutan tak memiliki alat tukar dalam hubungan sosial balas jasa. Takut-ku, takut semu. Takut kehilangan esensi makna atas kata tanggung jawab-sebagai ini, sebagai itu, dan sebagai bagai lainnya. Takut-ku, takut yang hadir membayang karena undangan dari rasa khawatir menjalani hidup di waktu muka. Takutku-takut akan bayang-bayang masa semu.

Sabtu, 02 Juli 2011

SELAMAT JALAN SANG PEJUANG

Award Lingkungan Hidup WALHI MALUT buat Pendeta Tjantje G. Namotemo
Oleh: Ismet Soelaiman
Eksekutif Daerah WALHI MALUT

Indonesiaku masih tegak
Karena doa orang – orang tertindas
Yang didengar Tuhan
Karena Doa mereka
Menembus ketujuh petala langit
Tanpa hijab

Penggalan puisi yang mengawali tulisan ini, adalah buah tinta Syaiful Bahri Ruray (Ko’ Ipul), dengan judul Atas Nama Rakyat, merupakan salah satu puisi dari kumpulan puisi Mata Hati dan Nafas Kehidupan (Pustaka FOSHAL, 2005). Bagi saya, puisi adalah nyanyian hati, sebuah bahasa sastra dengan kandungan berjuta makna. Mengalir tanpa kemunafikan, sesuai rasa yang lepas tanpa bungkus topeng kamuflase ke-genitan intelektual (jika memang demikian sebuah karya sastra itu mesti lahir). Tulisan ini tak bermaksud menggugat penggalan puisi diatas, karena hal yang sama pun saya yakini, bahwa negeri ini masih tegak, karena rakyatnya masih mau mengakui dan bernaung didalamnya. Karena, kami – yang adalah bagian dari rakyat itu, masih mau mencintainya.

Merah putih masih berkibar, diujung perahu sebuah sampan nelayan. Meski, atas nama Negara, sebuah investasi pertambangan harus memaksa mereka mengungsi dari kediaman tanah leluhur. Itulah akhir dari rekaman film documenter Bye – Bye Buyat. Lalu, dalam bait berikut dari puisi Atas Nama Rakyat, tinta Ko’Ipul bergumam, “Seandainya tanpa mereka (rakyat – pen), dan tinggal hanya para elit saja yang berasyik masyuk bertikai untuk kepentingan diri dan kelompok semata, maka kuyakin Indonesiaku telah lama tiada, karena tercabik – cabik oleh perseteruan elit yang tiada habisnya”, closing bait.

Yah, sang Elit di negeri ini sangat hobi bertikai. Dan “kita” hanya terlongo menjadi penonton bisu yang setia. Tapi, bukan elit yang ingin saya bahas dalam tulisan ini. Saya hanya ingin mengabarkan, bahwa di Jazirah Maluku utara, seorang rakyat – Pejuang Lingkungan Hidup telah lebih dulu menggapai kedamaian disisi Sang Pencipta. Adalah Bapak Pendeta Tjantje G. Namotemo (Pak Pendeta). Untuk itu, kami – Keluarga Besar WALHI, mengangkat topi dan membukuk sedalam – dalamnya dengan penuh keikhlasan.

SANG PEJUANG DALAM SECUIL REKAM JEJAK

“Saat itu, jumlah massa rakyat, cukup banyak. Mencapai ratusan orang yang menduduki Hutan Adat Soa Pagu di Toguraci, lokasi operasi PT. NHM, pada tahun 2004. Lalu tertembaklah si Rusdy Tunggapi, dan ia pun meninggal. Saya dan rekan – rekan disuruh jalan jongkok. Lalu beberapa orang dari kami, termasuk saya, dibawa ke Kepolisian Ternate. Sampai akhirnya kami bebas dan balik kembali ke kampung,” bertutur Pak Pendeta, suatu sore di pelataran rumahnya di Desa Balisosang. Saat itu kalender Masehi menunjukkan bulan februari 2010, saya dan beberapa kawan menyempatkan diri berkunjung di rumahnya.

Pak Pendeta bertutur lugas, tanpa sedikitpun kesan heroisme, tergambar dari raut wajahnya yang teduh penuh ketegasan itu. Tidak seperti (maaf) sebagian kalangan “aktivis” muda (juga saya tentunya) yang berkisah tentang heroisme aksi jalanan kami. Ia hanya bertutur tentang hak rakyat yang mesti direbut, dan kewajiban Negara (state apparatus) yang mesti dituntut. “Karena kita adalah pemilik syah republic ini dan merupakan bagian dari terbentuknya sebuah Negara, bukan begitu ?”, demikian kalimat Tanya penuh ketegasan, yang sering ia sampaikan kepada kami.

Ketika menulis catatan Award ini, saya teringat akan kisah suku Inca, yang ditulis dengan apik oleh Kim Macquarrie, dalam bukunya; Hari – Hari Terakhir Bangsa Inca (Kompas Gramedia, 2010). Buku setebal 583 halaman itu, menceritakan cukup banyak kisah dari keterdesakan suku Inca oleh keserakahan Bangsa Spanyol atas kilauan emas di zaman itu. Ada banyak tokoh yang diulasnya, namun disini, saya hanya mengutip, bagaimana Manco Inca akhirnya menjadi kaisar boneka, setelah kakaknya Atahualpa, yang merupakan kaisar pertama meninggal dibunuh Spanyol. Ketika Manco Inca mulai resah dengan keberadaan Spanyol yang terus menerus menjarah emas suku Inca, serta ingin mempersunting istrinya, Sang Manco bertanya kepada Kompeni Spanyol, sampai kapan mereka akan berada di daerahnya. Kompeni Spanyol menjawab, “biar gunung dan daratan kalian berubah menjadi EMAS, kami tidak akan pernah puas dan kami tidak akan meninggalkan daerah ini”. Lalu sang Manco Inca bangkit melawan, mengusir para kompeni Spanyol yang menjajah dan menjarah emas dinegeri mereka. Meski akhirnya mereka tetap kalah dan hilang dari peradaban bumi, namun yang terpenting adalah mereka tak tinggal diam dalam penjajahan, mereka bangkit melawan.

Namun Pendeta bukanlah Manco Inca. Bapak Pendeta adalah seorang Putra Pagu, yang dilahirkan dengana nama Tjanje G. Namotemo, pada 6 maret 1954 di Desa Balisosang. Senantiasa memilih hidup dan mengabdi di tengah – tengah masyarakatnya. Membangun kebun kecil di pelataran rumahnya, agar fungsi tanah sebagai sang pemelihara kehidupan senantiasa menjadi makna siraman rohani kesehariannya. Menjadi Tokoh masyarakat, yang senantiasa teguh memperjuangkan permasalahan aras bawah rakyat Balisosang, dan mereka yang senantiasa dirampas haknya.

Saya tak mau lancang melampaui rasa kebersamaan Pak Pendeta dengan keluarganya. Tapi dalam beberapa sesi paruh waktu dalam kehidupan, kami sering berbincang, baik itu secara langsung, maupun via telpon karena terpisah jarak. Atas inisiatifnya, di bulan juni 2010, saya bersama beliau, serta dua orang kawan sempat ketemu dengan beberapa anggota legislative Halut di Tobelo untuk menyampaikan persoalan warga Balisosang. Beliau pula di bulan juni 2010, yang meminta WALHI MALUT untuk mengirimkan surat resmi untuk hearing dengan pihak legislative Halut, terkait persoalan warga Balisosang.

Pada tanggal 19 maret 2010, lewat telepon, ia menyampaikan tentang pipa tailing PT. Nusa Halmahera Mineral’s (NHM), yang terlepas dan menumpahkan limbah tailingnya, pada 18 juni 2010 pukul 19.00 malam – 08.00 WIT pagi hari. Beliau bersama para tokoh masyarakat serta aparat Desa akan mengirimkan surat protes ke Bupati Halmahera Utara. Dan surat itu kemudian dilayangkan pada tanggal 23 maret 2010, dengan nomor: 660.3/01/2010, yang ditandatangani oleh tokoh masyarakat serta aparat Desa Balisosang.

Pada bulan oktober 2010, Beliau mendapat undangan via WALHI MALUT, untuk hadir dalam salah satu event di Mataram, namun kesehatannya mulai menurun. Pak Pendeta tak bisa menghadiri event tersebut, karena harus istirahat di rumah sakit. Beliau tak pernah tahu, betapa di Mataram, Ia telah menjadi seorang sosok, yang ingin dijumpai oleh banyak pihak, tuk sekedar menimba pengalaman dari tutur kisahnya. Teringat, sejak saat itu, rumah sakit menjadi tempat langganan untuknya beristirahat, melawan penyakit yang terus menggerogoti paruh waktu hidupnya. Meski dalam keadaan terbaring sakit, Beliau masih menyempatkan waktu tuk berdiskusi pada tanggal 20 oktober 2011, terkait penyusunan surat protes atas pernyataan Mentri Lingkungan Hidup tentang NHM.

Pada tanggal 12 februari 2011, saat hari telah gelap, Pak Pendeta kembali menghubungi kami. Karena saat itu sedang ada sedikit kerjaan, saya langsung menjawab telponnya dengan mengucapkan Salam dalam Islam, Pak Pendeta menjawabnya juga dalam Islam. Sesaat saya sadar, lalu meminta maaf, karena sudah menjadi kebiasaan, beliau menjawabnya dengan ramah, “mengutip Gusdur, yang penting adalah maknanya,” ucap Pak Pendeta. Sederhana, namun bijak. Malam itu, beliau kembali mengabarkan tentang Pipa Tailing PT. NHM yang terlepas lagi untuk kali kedua, yang terjadi pada tanggal 3 februari 2011, pada jam 11 malam. Pak Pendeta terus mengabarkan kejadian – kejadian di kampung, yang merugikan masyarakatnya.
Pada bulan April 2011, dua orang kawan wartawan dari Harian Kompas dan Tempo, tertarik tuk mengangkat profil sang pendeta. Mereka ke Desa Balisosang, tapi tak menjumpainya, karena pada saat itu, beliau kembali harus beristirahat di Rumah Sakit Tobelo. Kawan wartawan dari Kompas, masih meneruskan upayanya untuk mewawancarai Sang Pendeta di Tobelo, namun mungkin karena nasibnya kurang beruntung, meski sudah di Tobelo, ia tak menjumpai Sang Pendeta. Bapak Pendeta Tjante yang penuh keikhlasan, tak pernah tahu, jika Ia telah menjadi seorang sosok. “Saya hanya mau bersama warga memperjuangkan hak kami,” demikian ucapnya, suatu ketika dipertengahan april 2011, saat ia harus ke Jakarta, untuk memeriksa kesehatannya. Saat itu, Beliau menjadi salah satu dari 3 perwakilan masyarakat lingkar tambang di Indonesia, yang diundang dalam even Public Hearing on CSR & ASEAN, pada tanggal 02 mei 2011 di Jakarta. Namun, event tersebut juga, tak bisa Ia hadiri, karena factor kesehatan yang sudah tidak memungkinkan.

Tanggal 03 juni 2011, dengan bahasa yang sudah semakin lemah, ia masih mau mengabarkan kepada kami, tentang pipa limbah NHM yang bocor untuk ketiga kalinya. Tanggal 4 juni 2011, kami masih berdiskusi dengan beliau terkait dengan kondisi warga dikampung, serta meminta mandat apa yang mesti dilakukan oleh WALHI MALUT. Surati Mentri Lingkungan Hidup, itu langkah yang mesti diambil. Tanggal 5 – 6 juni 2011, ketika Surat ke Mentri Lingkungan Hidup sudah selesai dan siap dikirimkan, Pak Pendeta sudah tak bisa lagi dihubungi. Jumat Siang, tanggal 10 juni 2011, kabar duka itu kami terima, Bapak Pendete Tjanje G. Namotemo telah kembali dengan kedamaian dalam pangkuan Bapa di Surga.

UNTUK SEGALA PERJUANGAN MU

Banyak kisah suram dan ketertindasan rakyat di lingkar investasi skala massive dan padat modal, yang tak terekspose ke public. Panjang pula kisah perjuangan mereka, hanya untuk sekedar meraih kedaulatan atas sumber – sumber penghidupan yang sehat dan bersih dari kotoran limbah. Namun, tak sedikit pula perjuangan itu menjadi bola panas yang asyik dimainkan oleh para elit dan orang tertentu, tuk meraih kemewahan pribadi. Inilah letak kelemahan mental inlander dari wajah negeri yang semakin rapuh dikuasai asing.

Namun, tidak buat Pendeta Tjanje G. Namotemo. Terlalu banyak fakta dan kisah perjuangannya bersama warga, yang tulus dan ikhlas tuk sekedar meraih kedaulatan atas sumber kehidupan. Ia tak pernah tahu, mungkin juga peduli, jika ia telah menjadi seorang sosok. Sosok Pejuang Lingkungan Hidup, dimata Berry Nahdian furqon (Direktur eksekutif Nasional WALHI), Riza Damanik (Sekjend Kiara), Kusnadi W Saputra (Sekjend SHI), Mba Alien (Dewan Nasional WALHI), serta kawan – kawan penggiat Lingkungan Hidup yang lain. Beliau hanyalah seorang Pendeta, yang senantiasa membangkitkan semangat perjuangan lewat Khotbah – Khotbahnya (pengakuan warga Balisosang 2 hari setelah kepergiannya).

Untuk segala perjuangan mu, penuh keikhlasan kami tundukkan badan. Selamat jalan Pejuang Lingkungan Hidup dan Hak asasi Manusia. Semoga semangat perjuangan mu terus mengalir pada darah generasi kami.

“Indonesiaku masih tegak, jelas bukan karena hasil karya para elit. Tetapi semua itu dilakukan atas nama orang tertindas, yang bernama rakyat. Lalu benarkah itu ?”, demikianlah tiga bait terakhir bahasa hati Ko Ipul yang tertoreh Atas Nama Rakyat. Pertanyaan bisu, butuh jawaban bisu. Wassalam.

.

MELEPAS GUNDAH

ternate 22 maret 2011

Dimulai dari bau bangkai tikus yang menyengat, lalu kadal dan kemudian lipan yang sengatannya cukup berbisa. Ruang kerja ku yang nyaman mulai menebarkan terror bau dan intimidasi ketakutan, yang berpengaruh signifikan terhadap rasa malas tuk menyelesaikan pekerjaan. Sebenarnya ruangan 3 x 4 ini cukup nyaman tuk menghasilkan hal-hal besar, namun jarang sekali kugunakan. Aku lebih sering nangkring di ruang rapat staf, sehingga ruangan kerja ini lebih banyak kosong dan tertutup.

Aku terangkan padamu, sesuai dengan prinsip dasar latihan menulis; seperti apa ruangan tempat ku merumuskan dan merampungkan pekerjaan-pekerjaan kantor. Seperti yang sudah ku kemukakan sebelumnya, ruangan ini memiliki ukuran 3x4 m, berisikan satu buah lemari, 2 meja dan satu kursi bos . Di dalam lemari yang terbuat dari kayu lapis (ampas kayu yang dimampatkan), sisa program LEAD-UNDP, berisikan arsip-arsip kerja lembaga. Diatasnya terdapat 3 file dokumen, yakni; ANTAM, WBN dan NHM. Diatas meja yang berada di depan pintu masuk, terdapat file-file arsip , serta 2 laptop yang telah almarhum.

Dimulai dari bau bangkai tikus yang menyengat, tulisan ini akhirnya nongol ke permukaan. Saya jadi teringat Interupsi Tan Malaka dalam Naar de ‘Republiek Indonesia’ cetakan pertama tahun 1924. “Kelahiran suatu pikiran sering menyamai kelahiran seorang anak. Ia didahului dengan penderitaan-penderitaan pembawa kelahirannya”, demikian bunyi ‘interupsi’ di pengantar buku Menuju Republik Indonesia yang cukup fenomenal itu. Gundah gulana, resah dan sesak menjadi barisan penyerang yang terkonsolidasi dengan apik merengsek batas ketentraman hari-hari ku. Sempat membuatku terpojok hingga se-bulan lamanya. Ketentramanku berontak, lahirlah melepas gundah, ternate 22 maret 2011.

Aku ingin bercerita lewat tulisan. Dapat kuprediksi, tulisan kali ini sulit tuk beraturan. Karena, yang kutulis adalah rekam pertarungan dan lompatan ide melawan realitas kemalasan yang suntuk. Menjadi tak beraturan karena, tak kuredam apa saja yang nongol atau sekedar numpang lewat di memoriku, saat jemari menari menekan tuts-tombol keyboard laptop yang adalah miliki Rio Gova. Ku akan berusaha memegang kendali diri agar tak mengedit atau menata tuk kerapian tulisan ini. Apa saja kan kutulis, sambil menanti jasa Ido yang sementara membeli 2 bungkus mi instan rebus dan sebungkus rokok, menggunakan motor Bongki yang baru hari ini ia gunakan ke kantor setelah sebulan di bawanya dari dealer.......(seterusnya rahasia internal walhi malut :)

MENOREH KIDUNG PUJIAN

(Catatan kecil untuk Kawan ku Eros)

Mari maknai kepergian itu…

Tumpukan kertas laporan dan Koran sore serta pagi berhamburan di atas meja. Saat itu pagi beranjak siang, ketika aku sementara menyelesaikan laporan terakhir untuk Eksekutif Nasional, yang selalu saja tertunda. Kabar dari seberang Pulau yang berjarak ratusan mil dari Ternate, terhembus sampai ke telinganya. “Ayahanda tercinta, telah lebih dulu meninggalkan kita…”, Jum’at 21 januari 2011, Pukul 10 pagi, barulah angin berhembus membawa duka itu hingga ke telinga ku dan kawan-kawan yang lain.

Aku tak pernah tahu, siapa manusia di muka bumi ini yang tak goyah ketika di ¼ pagi, saat impian dan kelelapan, senantiasa berkuasa penuh atas tubuh, mesti buyar oleh habari duka dari negeri seberang ? Aku hanya tahu, karena semuanya masih terekam hangat dalam memori ingatan ku. Tubuh ringkih ku lunglai. Bibir ku gemetar tanpa kata. Dan air terus mengalir dari kedua pelupuk mata ku, kala daku pun mengalaminya di tanggal 8 mei 2009, saat asar telah usai, dan temaram menggayut bumi.

Dari negeri seberang, yang berjarak ratusan mil, kita hanya mampu menghadirkan kembali masa-masa emas dulu, ketika kita riang dan ceria di atas pundaknya. Tersipu malu, kala dengan bangga Ia menceritakan kehebatan kita di hadapan teman-temannya. Lalu, merangkul kita dengan senyumannya yang hangat. Dia adalah panutan, dia juga adalah kebanggaan. Untuk itu, dia menjadi sangat layak tuk dikenang dan diceritakan kembali.

Dari jarak ratusan mil, hanya bayangan senyumannya, kala mata terkatup dan hembusan nafas terakhir, keluar, menari menuju Sang Kausa Prima, yang bisa kita rengkuh dalam alam hayal di negeri seberang. Sesal kah kita ? Sekuat tenaga, ku usaha tuk bijak menjawab TIDAK ! Daku senantiasa membiarkan air mata ini mengalir. Tak pernah ada secuil hasrat tuk membendungnya. Yang ku lakukan hanyalah mengekang diri tuk teriak mengobarkan rasa resah yang membuncah, menghimpit isi dada ku. Dalam diam, hanya terdengar getar bibir yang gemetar, Daku menangis !

Nietzche mengelaborasi manusia super dalam zarpach zaratustra nya. Tapi, sayang, filsafat itu terlampau tinggi tuk kupahami. Juga konsep manusia unggul versi Hitler sang Kopral Prusia yang berkumis Jojon itu. Aku hanya ingat, “Bulan bergerak tanpa berisik…, dan Tuhan tak senantiasa bersahabat dengan diam, meski terkadang Ia adalah Sang kebisuan…, kata Gunawan Muhamad. Yah, saat seperti ini, Sartre amat ku rindukan, meski tak ada secuil catatan sastranya yang sempat terekam dalam memori ku.

Dalam keyakinan Islam, Allah telah berkata, “Tiap-tiap yang hidup pasti merasakan mati” (Al-Imran, Surat 3, ayat 185). Sayang sungguh dimalang, dalam glamournya kehidupan, serta padatnya rutinitas keseharian, aku terkadang lupa dan menafikannya. Daku lebih sering pongah, melangkah di atas permukaan bumi. Menatap hidup seolah ta’kan berakhir. “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”, kata Khairil Anwar. Si ‘Anwar’ hanya ingin, dan keinginannya justru pupus di usia yang cukup dini.

Beberapa waktu diakhir kemarin, kusam kita dipertontonkan dengan parodi putusan kasus Gayus, yang diangkat oleh kantor berita asing Reuters dengan judul “Akhir Cerita Petugas Pajak Indonesia yang Korup dan Pengguna Rambut Palsu” (Kompas, Kamis 22 januari 2011). Kita juga sempat mendengar, kasak kusuk pelesiran para wakil rakyat ke luar negeri. Kita juga sempat melihat secara langsung, penggusuran rakyat di Tidore dan Ternate, juga di Jazirah tanah besar Halmahera. Yah, mereka punya kuasa. Dan senantiasa terlihat pongah diatas derita saudara yang lain.

Adalah Niccolo Machiavelli, tokoh antagonis yang digemasi, tapi juga digemari oleh para politikus kita. Seorang ilmuwan ulung yang melemparkan teori “menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan”. Machiavelli menganjurkan para politikus yang ingin memusatkan kekuasaan pada satu tangan, harus mematahkan semua kekuatan yang diduga akan menghambat karier kekuasaannya. Ia menasehati agar segala cara harus ditempuh, asal tujuan tercapai. Jasad sang ilmuwan kini telah tercerai berai, mungkin menjadi atom yang menempel di ujung rudal USA ketika menggempur Irak, atau mungkin pula telah menjadi mineral di perut bumi. Ku ulang lagi, “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”, kata Khairil Anwar. Si ‘Anwar’ hanya ingin, dan keinginannya justru pupus di usia yang cukup dini.

Yah, fenomena glamour kehidupan, sering membuat daku lupa akan kematian. Jabatan, ketenaran, kemewahan, kemolekan dan aduhainya body wanita cantiQ, terkadang (atau mungkin lebih sering), membawaku pada hayalan dan kelakuan diri yang asing. Dengung ayat-ayat suci dari menara mesjid, dan panggilan takbir yang memecah angkasa, lebih sering menjadi “panggilan yang tak terjawab”, dalam keseharian ku. Maka, lemah lah sudah benteng iman, yang senantiasa Sang Ayah tanamkan semasa hidupnya. “Shalat – shalat lah kau, hai anakku, sebelum dikau di shalati. Dan Shalat lah dikau, hai anak ku, bukan untuk surga, tapi untuk ketetapan iman mu, agar tak mengambil hak orang !”

Kawan ku Eros yang baik. Kini mereka telah pergi. Bukan karena tak menyayangi kita, tapi karena itu adalah suatu kemestian. Tersisa kita yang masih hidup di ke fana’an ini, mari maknai kepergian itu. Tabea, Al-Fatiha untuk mereka semua yang telah lebih dulu mendahului kita. Amien. (* Itevsky, 22 januari 2011)

KELUH

Kosong. Ide melompong. Akhirnya barisan kata meluncur, dan tuts keyboard tertekan. ± 15 menit dalam kevakuman yang menjengkelkan. Diluar hujan masih deras membasuh kaki gamalama. Aliran listrik padam. Bongki dan masri lelap dalam gelap nan dingin yang memagut senja. Sesekali denting gitar dan suara baz mendez memecah kebuntuan. Satu paragraph telah usai, sementara arah belum jua tertuju, dan bentuk masih lah jauh dari samar.

Keluh. Tenggorokan ini tersekat. Dua bungkus rokok, telah habis menemani malam tadi. Kini bungkus ketiga, mulai masuk dan mengotori paru – paru yang sudah melewati paruh waktu ¼ abad. Bait kedua masih jua buram menggariskan langkah tuk mengarah pada sudut bahasan yang jelas. Seperti air, kubiarkan jemari ini mengalir, dan komat kamit bibir mengikuti irama kata. Aku menulis, karena merasa eksistensi tergerogoti oleh labelitas yang tak jua mampu kutuntaskan. Juga keluh atas kemalasan yang sudah melampaui batas control diri.

Dalam gelap sebuah bayang melintas. Kosong. Halusinasi mulai mendominasi. Tak ingin kubangkitkan hayal, karena bosan aku dengan kamuflase ruang semu. Tak mau ku cari topic, tuk sekedar memamerkan ketololan ku dalam memainkan irama kata. Laiknya biduanita, yang molek berlenggak lenggok, bermodal paras yang anggun dan body yang fiuhhh, menarik tatapan kaum pria, lalu menghantarkan mereka dalam buaian hayal yang mengawang. Kata yang berbaris dalam kalimat, dengan ramuan dan racikan sang penulis, mampu membuat nalar kita menghujam dasar terdalam dari imaji. Dan, bait tiga pun usai. Namun KELUH, belum jua mendapatkan arah dan bentuk.

Referensi bacaan semakin minim. Perbendaharaan kata, masihlah yang itu jua. Membaca tak lagi jadi kebiasaan. Kemalasan semakin liar menggerogoti ruang aktivitas keseharian. Eksistensi diri semakin pudar. Satu – satunya yang menopang, tersisa logika yang diandalkan. Sangat terasa, pisau analisis semakin tumpul. Karena landasan teori bertambah suram dan buram, beriring tak ada lagi asupan bacaan – bacaan baru. KELUH ! pada ini, aku hanya ingin mengeluh. Keluh akan stagnasi ide dan pengetahuan, yang lahir sebagai akibat dari kemalasan membaca dan berwacana. Mudah merewind kembali, bara ide itu nyala karena keberadaan tubuh dan diri ditengah – tengah basis bahasan. Ditengah – tengah para tani dan nelayan, senda gurau ditemani kopi serta ubi dan pisang goreng. Itulah factor utama yang membakar bara ide dan semangat tuk mempertajam pisau analisis, serta penambahan perbendaharaan kata dan wacana. Tidak hanya sekedar berhayal diruang 2 x 2, lalu menekan tuts guna menghadirkan barisan kata dalam kalimat yang mawujud menjadi satu tulisan tawaran ide.

Keluh. Dan hujan pun telah usai, seiring dengan Mendez yang pada akhirnya bosan atas sumbangnya suara sendiri. Baterei laptop, yang mengalirkan energy untuk seperangkat teknologi milik Rio, yang mungkin akan menjadi satu mujizat jika sekonyong – konyong aku terlempar ke zaman para nabi dengan benda ini ditangan, mulai mewarning, sebentar lagi ia padam. KELUH. Akhirnya ia padam. Ini energy tersisa. Mari kita belajar untuk memukul keluh, bangkitkan amarah, tuk ciptakan kecerdasan diri. EAuuuuuu. (Ternate, saptu 02 juli 2011)

Kamis, 16 Juni 2011

NHM – PIPA BOCOR dan PERTANYAAN “JUN” KECIL

Oleh: Ismet Soelaiaman
(Eksekutif Daerah WALHI MALUT)
Opini Radar Halmahera, 8 juni 2011

“Kak, kiapa sebe se ancor torang pe rumah, kong ajus bilang Jun mo pindah sekolah di Duminanga ?”

Itulah sepenggal pertanyaan Jun kecil, yang kini telah duduk di bangku SMP, kepadaku suatu pagi di 25 Juni 2005. Jika di Indonesia kan, maka bunyi pertanyaannya, “ kenapa bapak menghancurkan rumah kita sendiri, dan ibu mengatakan, Jun akan pindah sekolah”. Jun, putra dari Abah Mansur, salah satu tokoh masyarakat, yang senantiasa menemani keseharianku di Dusun Buyat Pante, dan sekelompok anak kecil yang lain, kemudian cepat sekali lupa atas pertanyaannya sendiri. Mereka dengan ceria terus berlari dan bermain diantara kesibukan orang tua mereka membongkar bangunan rumah. 25 Juni 2005, warga Dusun Buyat Pante, harus tergusur dari kampung halaman mereka, karena tak lagi merasa aman dan nyaman hidup di lokasi, yang lautnya dijadikan areal pembuangan (Sub – Marine Tailing Disposal/ STD), limbah tailing PT. Newmont Minahasa Raya, salah satu raksasa pertambangan emas di dunia.

6 Juni 2011, sehari setelah peringatan hari lingkungan hidup sedunia yang diperingati setiap tanggal 5 Juni, hari Senin, hari dimana hampir semua instansi memulai aktifitas perkantoran mereka, sebuah judul berita di Harian Radar Halmahera, menggelitik rasa malu yang lebih dominan memunculkan amarah dalam pribadi. Judul berita tersebut tertulis, “PIPA TAILING PT NHM BOCOR - WARGA DIMINTA JANGAN MELAPOR KE WALHI”.

Merasa malu, karena seolah – olah kebiadaban pipa limbah tailing yang bocor mengawali bulan Juni itu tak pernah sampai ke telinga seluruh publik Maluku Utara. Dan lebih merasa malu, karena instansi resmi milik Pemerintah yang mengurusi persoalan Lingkungan Hidup, bahkan telah ada Kementriannya pula, yakni Badan Lingkungan Hidup, seolah tidak digubris oleh pihak NHM. Sementara, instasi tersebutlah, yang merupakan decision maker dari pelaksanaan Undang – Undang nomor 32 tentang Lingkungan Hidup.

Ini kali ke-tiga, pipa limbah tailing PT. NHM mengalami kebocoran (terlepas). Dan lewat bacaan berita media (Radar, Senin 6 Juni 2011), kejadian pipa limbah tailing NHM yang terlepas, dan memuntahkan LIMBAH tambang emasnya (bukan EMAS, tapi LIMBAH), yang mematikan sector produktifitas ekonomi masyarakat tempatan, proses penyelesaiannya, sepertinya akan menjadi drama sinetron dengan babak yang baru, tapi skenarionya masih scenario lama – scenario pipa bocor NHM pertama (17 maret 2010) dan pipa bocor NHM kedua (3 februari 2011), yang tak ada ujung penyelesaiannya.

Persoalan penurunan pendapatan Masyarakat Balisosang/Tomabaru (salah satu desa yang berada di lingkar tambang PT. NHM), bukanlah hal yang baru, dan terjadi ketika PT. NHM melepaskan limbah tailingnya ke alur sungai yang bermuara ke perairan Teluk Kao. Hal ini sudah dikeluhkan berulang kali oleh masyarakat sejak 2007. Pada bulan juni 2010, dalam sebuah sesi diskusi kampung di Tomabaru, yang dihadiri oleh Bapak Kepala Desa, ketua BPD, serta tokoh Agama dan perwakilan masyarakat Desa Tomabaru, saya sempat mencatat keluhan – keluhan mereka. Juga pada bulan yang sama, juni 2010, WALHI MALUT memfasilitasi perwakilan warga untuk hearing dengan pihak legislative Halmahera Utara, dan menyampaikan persoalan kesulitan akses air bersih di wiayah perkebunan mereka, yang menurunkan pendapatan ekonomi masyarakat tempatan. Malangnya, hingga insiden pipa limbah tailing PT. NHM terlepas untuk yang ketiga kalinya, suara rakyat Tomabaru, masih merupakan suara yang bisu dan terbungkam dihadapan instansi resmi pemerintah, yang selalu berslogan menghadirkan investasi pertambangan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Semakin riskan dan memiriskan, ketika dalam ruang media public, para elit politik, maupun eksekutif Maluku Utara, hanya sibuk berdebat dan berkelahi tentang besaran dana CSR PT. NHM, dan siapa yang akan meraup keuntungan dari dana, yang diperoleh lewat penghancuran sendi – sendi kehidupan masyarakat KAO dan Malifut itu. Perdebatan tentang keuntungan yang diraup NHM, 5 – 6 bahkan sampai 11 trilyun rupiah, terus menghiasi kolom – kolom media public di Maluku Utara. Sementara realita masyarakat Tomabaru, yang hampir seagian besarnya berasal dari Hoana Pagu, yang memiliki lahan adat di atas keserakahan modal NHM itu, tak pernah ada di Jazirah Halmahera.

…Lalu, di bulan Juli 2005, Jun dan sekolompok anak kecil, dengan memeluk lengan ibu mereka, sambil menatap reruntuhan sisa bangunan rumah, yang sebagiannya telah habis dilalap api, berlalu meninggalkan Dusun Buyat Pante. Apapun hasil keputusan pengadilan tentang tercemar atau tidaknya kondisi lingkungan hidup di perairan Teluk Buyat, yang adalah sumber produktifitas orang tua si Jun dan para orang tua yang lain, mereka terpaksa harus meninggalkan tanah leluhur mereka. Karena, warga Dusun Buyat Pante sadar, bahawa mereka sendirilah yang senantiasa setiap hari bergelut dengan kehidupan di seputaran Teluk Buyat, tempat pembuangan limbah tailing PT. Newmont Minahasa Raya. Mereka sadar, bahwa mereka sendiri yang merasakan, bukan para Hakim yang memutuskan perkara di pengadilan, bukan para kalangan akademisi atau pakar intelektual, bukan elit politik, bukan pejabat pemerintah, juga bukan LSM yang merasakan dampaknya. Tapi mereka, yah mereka, Pak Mansur Lombonaung, Anwar Stirman, ibunda almarhum Andini, serta warga Dusun Buyat Pante yang lain. Mereka yang saban hari lebih merasakan dampak buruk dari aktifitas pertambangan itu, sehingga memilih meninggalkan Dusun tercinta mereka, Dusun Buyat Pante di Sulawesi Utara.

Semoga, kisah nyata, yang tragis dari warga Dusun Buyat Pante, tidak sampai terulang di Jazirah AL-Muluk yang kita cintai bersama ini. Dan semoga kita semua, public Maluku Utara, tidak terbuka matanya nanti setelah pertanyaan Jun kecil, menjadi pertanyaan torang pe ade – ade, deng torang pe anak – anak di daratan besar Halmahera. Syukur Dofu – Dofu.

Rabu, 16 Maret 2011

DARI CHICO MENDEZ SAMPAI HUTAN HALMAHERA

Oleh : Ismet Soelaiman
(Eksekutif Daerah WALHI Maluku Utara)

Malut Post - Kolom Opini, Edisi Selasa 15 Maret 2011

Lelaki itu akhirnya harus tumbang diujung moncong bedil, yang meletus tepat di belakang rumahnya. Dadanya berlumuran darah. Sambil memegang kepalanya, limbung ia melangkah, tertatih masuk kembali ke dalam rumahnya, hanya untuk melihat satu orang istri dan kedua bocahnya yang masih belia untuk yang terakhir kalinya. Lalu ia jatuh – terkapar, dan menghembuskan nafas terakhir. Chico Mendez, lelaki dari pedalaman Amazone yang kharismatik itupun akhirnya meninggal.

Itulah sepenggal film yang saya cuplik dari kisah perjuangan warga Chacoeira – Brazil, yang mempertahankan hutan karetnya dari segelintir orang yang serakah. Atas nama kemajuan dan modernisasi, sektor pendapatan ekonomi warga lokal mesti diluluh-lantakkan. Petani kehilangan lahan garapannya, lalu dipaksa beralih fungsi menjadi buruh pabrik. Mereka, warga Chacoeira itu, tak mengerti apa itu Pemanasan Global. Yang mereka pahami dan yakini hanyalah, “ Jika kau mengambil lebih dari hasil Hutan, maka Curupira (Manusia Cebol penjaga hutan), akan marah dan mengambilmu”. Untuk kepercayaan lokal itu, maka hutan tropis Amazone di belantara Brazil, senantiasa menjadi salah satu peredam laju emisi karbon, penyebab global warming di permukaan bumi yang semakin uzur ini.

Ia, Chico Mendez itu, tak pernah bermimpi menjadi pahlawan. Ia hanya ingin orang kampungnya bekerja dan maju bersama kearifan tradisional mereka dalam mengelola dan memanfaatkan sumber-sumber produktifitas ekonominya. Mereka tak menolak modernisasi zaman. Yang mereka tolak hanyalah hutan yang adalah lahan tani mereka dirampas dengan cara-cara yang licik. Ketika sebuah investasi asing datang dengan proyeksi ekonomi mereka, lalu menggunakan kekuatan politisi, militer dan para militer (preman), merampas sumber kehidupan warga Chacoeira, mereka-warga di pedalaman Amazone itu bangkit, bersatu dan melawan. Mereka paham, jika sendiri, maka mereka pasti terlibas kebiadaban koorporatokrasi (perkawinan birokrasi dan koorporat yang dibentengi militer). Korban berjatuhan, tapi mereka-warga kampung itu tetap berlawan memperjuangkan hak mereka. Dan Chico Mendez menjadi ikon perjuangan itu.

HUTAN DAN WARGA HALMAHERA

Banyak dari kita, warga Halmahera yang hidup di Ternate tak pernah tahu, berapa luasan hutan di Jazirah Halmahera. Banyak pula dari kita yang tak pernah mau tahu, seberapa besar sumbangsihnya bagi kehidupan masyarakat sekitar. Sementara, saya cukup meyakini, keterdidikan kita, kecerdasan dan kapasitas intelektual yang kita miliki saat ini, cukup besar sumbangsihnya dari hasil kopra, pala, cengkeh, dan hasil laut para orang tua kita yang berada di kampung-kampung Halmahera. Tidak sedikit dari kita, yang saat ini tak lagi gagap dengan segala hal ihwal modernisasi zaman, adalah buah kasih dari sepasang petani atau nelayan di tanah besar sana. Dan hutan-hutan itu kini telah terancam, bahkan ada yang telah hilang bersama kampung halaman warga tempatan.

Mari kita mulai membacanya dari pulau di selatan Maluku Utara. Pulau Taliabu dan Mangoli, entah berapa banyak warga yang telah dimasukkan ke penjara, atau diintimidasi oleh aparat, karena dipaksa melepas tanah garapannya, saat konsesi hutan beroperasi di wilayah tersebut. Ketika konsesi hutan selesai, warga lokal diperhadapkan dengan maraknya izin kuasa pertambangan yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat. Ratusan hektar konsesi diperuntukkan bagi tambang. Data Sula Mining Watch terdapat ± 21 izin kuasa pertambangan, sementara data dari ESDM pusat, di Kabupaten Sula terdapat 116 izin KP, yang tentunya sebagian konsesi itu berada di wilayah perkebunan warga. Jika demikian, lalu bagaimana dengan nasib warga yang areal ruang hidupnya masuk dalam kawasan konsesi tersebut ? Adakah mereka tetap bertahan, berlawan, atau jangan-jangan telah tergusur dan kita tak pernah mengetahuinya. Penting kiranya bagi kawan-kawan Mahasiswa Sula mengabarkannya kepada dunia, karena orang-orang yang terlindas keserakahan zaman itu, adalah saudara kita juga.

Di Halmahera Selatan, sempat mencuat di media publik Maluku Utara, protes dari warga terhadap konsesi tambang di Pulau Obi. Ada pula konsesi hutan di wilayah Gane. Di Halmahera Utara, pesisir laut dan pulau-pulau kecilnya yang menawan, hampir penuh dengan konsesi tambang pasir besi. Ada pula raksasa pertambangan emas PT. Nusa Halmahera Mineral yang hobi memecahkan pipa limbahnya dan mengancam kesehatan hidup warga tempatan. Di Halmahera Tengah, Pulau Gebe telah usai dilumat kekayaan nikelnya oleh PT. ANTAM dan menyisakan banyak kisah duka dari pulau tersebut. Di daratan Halamahera Tengah, ada pula raksasa pertambangan nickel, yakni PT. Weda Bay Nickel, yang hingga kini tak becus mengurus pembebasan tanah warga lokal di Sagea, Lelilef, Kobe dan Gemaf. Di ujung daratan Halmahera Tengah, tepatnya di seputaran Tanjung Ngolopopo-Patani, ada pula konsesi hutan yang menggusur areal perkebunan pala warga lokal.

Di Halmahera Timur, inilah tempat laboratorium kecil para investor tambang dan kayu. Semuanya berlomba menguras isi perut buminya, dan menggusur lahan petani, mengotori pesisir dan wilayah tangkap nelayan dengan air coklat lumpur dari daratan produksi mereka. Lihat saja, betapa gersang dan tandusnya Pulau Gei dan Pulau Pakal. Benar, sebagian warga tiba-tiba memiliki uang yang banyak, tapi apa sebutannya bagi petani jika tanah dan lahan garapannya tak lagi ia punya. Di Morotai, kasus rebutan lahan antara warga-pemerintah daerah dan Angkatan Udara, terus saja mencuat di permukaan, namun hingga kini solusinya masih tetap buram. Belum lagi usai kasus tanah itu, sekonyong-konyong berita akan tergusurnya beberapa desa di daratan Morotai akibat investasi pertambangan pasir besi mencuat ke permukaan. akankah mereka tergusur, atau justeru telah tergusur ? Apa kabar Mahasiswa Morotai. Adakah kalian mau mengabarkannya kepada kami, saudara kalian yang berada di pulau lain ?

Chico Mendez tak pernah bermimpi menjadi pahlawan. Ia dan warga Chacoeira di zaman itu, juga tak butuh program REDD (Reduction Emision for Degradation & Destruction), untuk menyelamatkan hutan dan sumber-sumber kehidupan mereka. Karena disana, di pedalaman Amazon, sebuah perkampungan kecil di pelosok Brazil, Mendez dan orang kampungnya punya Curupira, dan itu sudah cukup membentengi mereka dari keserakahan atas eksploitasi alam. Mereka juga tak terlalu butuh banyak ikon perjuangan untuk berlawan dan merebut kembali tanahnya. Mereka hanya sadar, bahwa bersatu kita teguh, dan bercerai kita runtuh. Perjuangan mereka-warga kampung itu berhasil. Perusahaan asing, yang diback up penuh elit politik dan aparat militer, akhirnya mundur dan angkat kaki dari wilayah kehidupan mereka. Satu pembelajaran yang bisa kita petik dari film berdurasi ± 90 menit itu, bahwa semua itu mungkin jika kita bersatu dan mau memperjuangkannya.

Tanah dan warga di Maluku Utara sedang dan berada dalam ancaman penggusuran. Kita tak lagi berdaulat atas ruang hidup kita sendiri. Sementara, Chico Mendez tak pernah bermimpi menjadi pahlawan pejuang lingkungan. Namun, minimal, ia sang orang kampung itu, bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Adakah demikian hai saudara kampungku Moloku Kie Raha ? Tabea.

Sabtu, 12 Maret 2011

NEGERI KECIL ITU BERNAMA MALUKU UTARA

Sekedar Refleksi atas Penembakan Aksi Warga di Pulau Gebe
Oleh: Ismet Soelaiman
Penggiat WALHI

KEBEBASAN

Kebebasan merupakan sesuatu yang mahal bagi orang-orang yang sengaja maupun tak sengaja dirampas hak-haknya. Kita semua tahu, jauh sebelum negri ini terlepas dari koloni asing (Belanda kemudian Jepang), kebebasan berekspresi hanyalah sebatas khayalan. Semuanya, yang menurut “Bang Pram” terpantau dibawah kungkungan rumah kaca. Kemanapun kau bergerak, berkumpul, berbicara (lisan maupun tulisan), ketika dianggap akan mengganggu kenyamanan modal kolonial, atau ketentraman bangsa penjajah, atau bahkan bisa sampai membuat sang tuan besar Gubernur Jendral sakit gigi dan mual-mual, maka tidak bisa tidak, selain kau mesti bungkam, dibungkam atau lenyap-muspra dari muka bumi Hindia. Meski kata yang kau lontarkan tersebut merupakan perwakilan fakta nyata atas kejadian-kejadian yang pernah kau saksikan dan sangat perlu untuk disampaikan ke khalayak ramai. Kata-kalimat, yang lahir dari ketergugahan hati atas sebuah realita, merupakan ekspresi nilai-nilai intelektual yang bebas. Namun itu tak boleh terjadi di zaman kolonial-zaman penindasan inlander. Kau tak bisa lepas dari amatan, karena kau hanyalah seekor kelinci percobaan di dalam pantauan pengawas rumah kaca. Tiap kata dan gerak terawasi serta teranalisis juga terdokumentasikan dengan apik.

“Benarkah di zaman penjajahan, tiap kata dan gerakan dapat terpantau oleh rumah kaca kolonial ?”

Kejadiannya sudah lama berselang. Bahkan telah lebih dari setengah abad. Saat itu, pada tanggal 23 juni 1933, Gubernur Jendral De Jounge menurunkan satu perintah: Koran Soeara Oemum di Surabaya di bredel. Seorang wartawan bernama Tjindar Boemi, lima bulan sebelumnya menerbitkan sebuah tulisan tentang pemberontakan di atas kapal De Zeven Provincien. Isinya dianggap “menghasut”. Titah gubernur jendral itu bermula dari Procureur General pada tanggal 10 februari 1933. Dalam laporan itu disebut adanya perintah kepada yang berwajib di Surabaya untuk menahan Tjindar Boemi. Juga untuk “mendengar keterangan” dari pimpinan Soeara oemum”, dr. Sutomo, dan menyuruhnya “menandatangani pernyataan setia”.

Give Me Liberty or Give Me Death

Di sebuah tembok jalanan Jakarta, sekitar november 1945, para pemuda pejuang menuliskan dengan huruf-huruf besar, “Give me liberty or give me death”. Mereka tak bermaksud berbicara kepada orang Indonesia sendiri. Kalimat itu kata-kata orang Amerika Patrick Henri, diucapkan menghadapi penjajahan Inggris abad ke-18. dengan mengutip itu, kata bang “G. Muhamad” para pemuda Indonesia tampaknya ingin mengingatkan: suara seorang patriot Amerika abad ke-18 sama dengan suara para patriot Indonesia tahun 1945. Penindasan, pengekangan dan pembungkaman dapat melahirkan anak-anak zamannya sendiri. Anak-anak yang tak serta merta menjadi “beo” penguasa, sang “despot” yang merasa sebagai dewa atas sesama yang lain. Anak-anak zaman yang dengan tegas berani mengatakan tidak melalui caranya sendiri. Maka, tembok dan sarana kosong, menjadi luapan semangat atas ekspresi kebebasan mereka, ketika sarana formal berupa media cetak maupun elektronik telah menjadi sarang amatan penguasa, yang tiap saat dapat diberangus dan dihancurkan hanya atas dalih mengganggu kestabilan, dan ketentraman negri.

Sudah setengah abad lebih republik ini “merdeka”, lepas dari zaman kolonial Belanda dan Jepang. Namun apakah, di usia yang sudah mulai memasuki masa dewasa dan meninggalkan kenangan remaja ini, kita sebagai anak bangsa telah mengecap kemerdekaan dalam arti kebebasan ? Baiklah, mari kita coba buka sekelumit sejarah kebebasan berekspresi dalam bentuk kata-lisan dan tulisan di dua orde yang telah lewat. Orde lama, juga orde baru.

PEMBUNGKAMAN

Adalah seorang Pramoedya Ananta Tour, yang di zaman perang kemerdekaan tak pernah menyesal ditangkap dan dipenjarakan Belanda, karena ia anggota dari pasukan Republik. Mungkin tak terlalu muluk bagi bang Pram dan anak negri Hindia yang lain, rela berkorban hanya untuk meraih dua kata, “kemerdekaan-kebebasan”. Adakah kata hanya sebatas kata tanpa makna ? Di zaman kemerdekaan, zaman “Demokrasi Terpimpin” Soekarno ia dipenjara tentara, karena bukunya Hoakiu di Indonesia. Di zaman “Orde Baru” Soeharto ia dipenjarakan, dibuang ke Pulau Buru selama 13 tahun bersama 12.000 tahanan politik lainnya tanpa proses peradilan, dan kemudian dikembalikan ke Jakarta tetapi tetap tak bebas, selama hampir 20 tahun. Karya sastranya, buah dari hasil kebebasan ekspresinya yang terjepit diantara lars dan kokangan bedil senapan sesama anak negri, tak jua boleh terbit dan beredar di negrinya sendiri. Negri yang ia cintai dan turut larut dalam perjuangan meraih kemerdekaannya. Sebuah negri yang bernama Indonesia.

Adakah Bang Pram sendiri dan merasa ter-sendiri yang dicerabut hak-hak kebebasan berekspresinya ? “Marilah kita ingat bahwa pada mula dan pada intinya adalah pembungkaman”, kata bang G. Muhamad. Di tahun 1973, 1978, 1982, dan entah kapan lagi di masa orde baru, pembredelan terjadi. Di tahun 1994 juga. Tetapi apa yang menyusul pembredelan 1994 sama sekali berbeda. Setelah pembredelan terhadap Tempo, DeTik dan Editor itu, dua hal terjadi, yang tak pernah terjadi sebelumnya. Telah lahir kembali anak-anak zaman. Anak-anak yang berani menyuarakan sesuatu yang dianggap mereka “benar”. Untuk itu, di Jakarta, Yogya, Surakarta, Bandung dan Ujung Pandang demonstrasi pun terjadi. Sebuah barang mahal dan langka di republik ”merdeka” yang katanya telah mengenal demokrasi saat itu. Mereka melakukan aksi protes di jalan raya, di bawah terik mentari, juga di depan moncong bedil tentunya. Meski secara sadar, atau mungkin juga tidak, mereka telah memasukkan dan dimasukkan dalam sebuah “rumah kaca” anjing-anjing pengawas sang despot – the doug of glass home.

Gandhi dan Ahmad Dinejad

“Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, tapi tak cukup untuk seorang yang serakah”. Demikian ucap Opa “Gandhi”, sang kreator revolusi damai di India. Saya tak punya cukup keberanian untuk membongkar makna “serakah”, tapi masih memiliki secuil kegelisahan atas hal tersebut. Serakah ingin memiliki segalanya, membuat orang terkadang lupa, bahwa di sekelilingnya ada sekumpulan komunitas orang yang juga membutuhkan kenyamanan hidup seperti dirinya. Kenyamanan akan kebebasan berekspresi, menyuarakan kata hati dan pendapatnya atas hal apa saja. Jika, sang penguasa telah kawin dengan keserakahan (dan hal tersebut paling sering terjadi, tidak Soekarno, Soeharto, Hitler, Stalin, juga Bush), maka telah lahir pula anak zaman yang lain, dan itulah yang disebut kekuasan sang Despot. Kata dan kalimat adalah implementasi kekuasaan. Tak boleh tidak, apalagi lebih. Untuk itu, maka di era ORBA, perlu ada Harmoko, yang senantiasa patuh mengejawantahkan maksud “Bapak”, dan semua media mesti mengamini, mematuhi dan menyebarkannya. Tak boleh berbeda, karena hal tersebut bisa menganggu stabilitas, serta menghambat pembangunan. Disinilah, kebebasan menjadi sesuatu yang langka, juga mahal.

Namun, di sudut gerbang masa yang lain, ada seorang Mahmoud Ahmadinejad yang dengan lantang berani mengungkapkan ekspresinya secara eksplisit atas Eropa juga USA disebuah forum resmi negara-negara Islam. “Pembantaian enam juta umat Yahudi pada masa Perang Dunia II oleh Nazi hanyalah sebuah mitos yang dipakai bangsa-bangsa Eropa sebagai dalih untuk menciptakan negara-negara Yahudi di tengah-tengah dunia Islam”. Hitler – sang Fuhrer megalolamania, seorang kopral Prusia yang kemudian menjadi penguasa Jerman, mungkin bisa juga tersentak dari kuburnya, Sekiranya demikian ucapan seorang Presiden Iran, negeri yang memiliki sejarah panjang perlawanan melawan tirani. Mahmoud mungkin telah membuat sebuah “kesalahan” atas apa yang diucapkannya di forum tersebut, tapi tidak untuk keberaniannya mengungkapkan (mungkin) ekspresi kekesalannya terhadap kooptasi negara-negara adidaya atas dunia Islam. Dan ia mendapatkan panggungnya. Ketika, setelah ucapan tersebut langsung mendapat respon negatif berupa kecaman dari berbagai pemimpin dunia, Mahmoud sang presiden yang negaranya sementara terjebak dalam pentas rumah kaca internasional (khusus USA), karena isu nuklir tersebut, dengan santai meresponnya (mungkin juga sambil senyam-senyum), “ah, ternyata mereka (negara-negara pengecam) belum dewasa dalam menghargai perbedaan pendapat”. Sederhana, namun cukup berani untuk sebuah bangsa yang kecil dan sementara menjadi incaran bombardir keserakahan global, yang mengklaim diri sebagai world police.

Luka Di Jazirah Al Mulk

Lalu, bagaimana dengan negeri kecil namun indah yang kaya akan sumberdaya alamnya ini. Negeri kecil yang dalam catatan sejarahnya cukup kenyang dengan penjajahan dan penjarahan kekayaan alam. Negeri kecil yang memiliki banyak pulau dan keindahan alam pesisirnya. negeri kecil yang kaya akan situs budayanya. Dan negeri kecil yang telah ditempati moyang kita sejak dulu kala. Negeri Al-Mulk.
Adakah ia membatasi, juga membungkam kebebasan ekspresi anak negerinya?
Entahlah...
Yang pasti, pada tahun 2004 adalah seorang Rusdi Tunggapi yang berusaha mempertahankan tanahnya ditembak mati oleh aparat di lokasi pertambangan PT. NHM. Ia dan warga kampungnya mencoba untuk mempertahankan sumber ekonominya, dan mempertahankan hak disini berarti bersalah, dan mesti mati. Adakah tindak kekerasan itu berakhir, sepertinya tidak. Sore hari, 27 februari 2010, letusan bedil kembali memakan korban anak negerinya sendiri. Warga yang menuntut hak-haknya kembali mesti dibungkam oleh bedil aparat yang berslogan pelindung rakyat. Mereka, warga-masyarakat Gebe – Halmahera Tengah – Maluku Utara yang kekayaan nikelnya dijarah PT. Aneka Tambang, menuntut, lalu ditembaki. Menuntut sepertinya sesuatu yang salah dimata aparat kita.

Adakah penembakan, perampasan hak, pembungkaman dan penindasan terhadap warga kita itu, mampu menggugah alam pikir dan rasa kita semua warga Maluku Utara ?
Lagi-lagi entahlah..

Fakta yang terlihat secara nyata, kesucian Bumi Halmahera masih terus diperkosa, keanggunan dan kemolekan tubuhnya perlahan semakin sirna. Tangan-tangan keserakahan, dengan “tameng negara”, menggunakan ekskafator dan beragam alat berat penghancur, menjarah tanpa ampun kekayaan tambang, yang merupakan warisan anak cucunya. Menyisakan kerusakan dan kehancuran bagi alamnya, serta duka, air mata dan ketertindasan dalam kemiskinan bagi rakyatnya. Dan ketika semua hak itu ingin kita rebut kembali, maka “moncong bedil sang pelindung” kan berpihak pada Company pertambangan, tidak pada kita, anak bangsanya sendiri.
Akankah kita, mereka dan kami semua dibiarkan terus hidup dalam ketertindasan dan perbudakan, hingga akhirnya mesti terusir dari tanah moyangnya sendiri? Yah, terkadang tak semua pertanyaan butuh jawaban dan tak semua jawaban dalam kata adalah solusi. Warga Gebe ditembaki oleh aparat yang bermotto “Pelindung Rakyat”. Gebe punya ANTAM, sementara Halmahera punya Company Nusa Halmahera Mineral, Company Weda bay Nickel dan ratusan izin Kuasa Pertambangan. Jika satu company pertambangan mengakibatkan satu komunitas kecil yang berani menyuarakan haknya dihujani peluru, dan berakhir dengan luka dan duka, lalu siapa yang berani menjamin bahwa duka tersebut takkan dilakukan oleh company-company pertambangan yang lain di Jazirah Al-Mulk ini ?

Entahlah.., toh Maluku Utara hanyalah salah satu titik kecil yang juga tak luput dari pantauan Rumah Kaca Kolonial. Mungkin juga medianya. Wallahualam Bissawab.