Senin, 06 Mei 2013

KALAODI


Perkampungan Kalaodi yang berada di daratan tinggi Pulau Tidore

Berada di ketinggian ± 900 mdpl, terdapat pemukiman penduduk yang masih hidup bersandar pada ritual budaya dan keasrian alam. Hutan rimbun yang rapat, disela-sela tanaman agroforestry, seperti pala, cengkeh dan durian senantiasa menjadi pemandangan yang indah ketika kita menginjakkan kaki di pemukiman ini. Kalaodi, demikian nama kampung tersebut, berada di Pulau Tidore – Maluku Utara, yang menurut beberapa tetua kampung berasal dari kata SeKalaodi yang dimaknai ‘memberikan petunjuk atau jalan yang benar’.

Kalaodi yang memiliki luas wilayah 8 x 8 km, pada tahun 2012 didiami oleh 454 penduduk, dengan 105 kepala keluarga, dimana 85% adalah petani kebun. Terdapat empat dusun, yakni RT I Dola sebagai pusat pemerintahan, RT II Kola berada di sebelah barat, RT III Golili di sebelah utara, dan RT IV Suwom di sebelah timur. Selain pemerintahan negara, hidup dan berlaku juga sistim pemerintahan adat yang dipimpin oleh seorang Sowohi atau pimpinan adat. Tradisi upacara adat dan kearifan budaya yang masih hidup serta mengakar kuat dalam keseharian warga, menjadi landasan realita ditemukannya struktur kelembagaan adat dan tatasistem nilai budaya di Kalaodi. 

Upacara adat yang masih dilaksanakan adalah Paca Goya, atau pembersihan tempat keramat, yang dipimpin oleh Suwohi. Tiga hari selama prosesing upacara berlangsung, Kalaodi dalam keadaan hening, tanpa bunyi-bunyian, termasuk suara kendaraan bermotor. Paca Goya dilaksanakan berdasarkan niatan warga kampung. Biasanya setelah usai panen, sebagai wujud syukur atas limpahan berkat yang diterima.

Ada juga tradisi gotongroyong yang disebut Bari, Marong, dan Galasi. Ungkapan Bari  digunakan secara umum untuk gotongroyong dalam segala hal, mulai dari pembukaan lahan perkebunan, membangun rumah dan yang lain. Marong merupakan kelompok kerja dalam pembukaan lahan kebun. Galasi merupakan gotong royong pembukaan lahan kebun dengan menggunakan sistim hitungan jam pasir (pasir sangrai yang diisi dalam botol seperti hitungan waktu zaman dulu). Jika pasir di bagian botol atas sudah kosong, maka pekerjaan dinyatakan selesai.

Penghargaan terhadap struktur lembaga adat, melahirkan harmonisasi kehidupan antara warga Kalaodi dan alam sekitar. Pelarangan penebangan pohon dan penggundulan hutan karena bisa berdampak pada erosi dan banjir di wilayah pesisir Tidore, yang di cetuskan oleh pemerintah desa sejak tahun 1974, diperkuat oleh bobeto adat. Bobeto merupakan fatwa, perjanjian, atau sumpah yang dikeluarkan oleh struktur lembaga adat yang ada, dimana sangat ditaati sebagai hukum tetap yang tak bisa dilanggar. Sejak itu, proses pembukaan hutan untuk lahan perkebunan di Kalaodi, setelah pembersihan, diwajibkan untuk menanam tanaman tahunan lebih dulu, seperti pala dan cengkeh sebelum menanam palawija. 

Potensi sumberdaya alam yang dimiliki oleh kelurahan Kalaodi pada tahun 2012 berdasarkan luas tanaman pangan, meliputi jagung seluas 6 Ha dengan hasil 1,5 Ton/Ha, kacang panjang 02, Ha dengan hasil 0,5 Ton/Ha, ubi kayu dengan luas 6 Ha dengan hasil 10 Ton/Ha, luas lahan untuk cabe 1 Ha dengan hasil 2,5 Ton/Ha, bawang merah dengan luas lahan 03 Ha dengan hasil 1,5 Ton/Ha, lahan untuk tanaman tomat 1,5 Ha dengan hasil 1,5 Ton/Ha, ketimun 0,5 Ha dengan hasil 1 Ton/Ha serta sayur lilin 4 Ha dengan hasil 1 Ton/Ha.

Selain itu, ada pula komoditas buah-buahan diantaranya mangga 2 Ha dengan hasil 3 Ton/Ha, durian 35 Ha dengan hasil 3 Ton/Ha, sedangkan luas tanaman perkebunan diantaranya kelapa 3 Ha, kebun pala 30 Ha sedangkan cengkeh 67 Ha. Untuk potensi lainnya bamboo dengan luas lahan 17 Ha, enau dengan luas lahan 15 Ha sedangkan melinjo seluas 15 Ha.

Sistim pengelolaan perkebunan di Kalaodi, terbagii menjadi lahan perkebunan desa, perkebunan pemuda, dan perkebunan warga. Untuk kebutuhan pembangunan desa non alokasi anggaran pemerintah, seperti pembangunan pagar kampung merupakan sumbangsih hasil dari kebun pemuda. 

Kalaodi sejak 1960-an, telah memperhitungkan persoalan keterbatasan lahan akibat dari penambahan jumlah penduduk, sehingga sebagian warga dipindahkan ke beberapa tempat, baik di Pulau Tidore sendiri, maupun di daratan Halmahera. Perpindahan ini berlandas pada perintah Sultan Tidore saat itu, agar warga membuka lahan pemukiman dan perkebunan baru, sebagai ruang produktifitas ekonomi, selain untuk menjaga kelestarian alam di Kalaodi. Perpindahan warga berdasarkan kesepakatan marga dilakukan dengan sangat sistimatis, dimana tiap keluarga harus tersisa satu yang tetap berdomisili di Kalaodi. Dengan demikian, “pohon turunan” keluarga, tetap terjaga di kampung tersebut.

Kearifan dan keserasian hidup antara manusia dengan alam yang terdapat di Kalaodi ini, menjadi faktor pendorong yang menggerakkan Kelompok Sahabat Alam, salah satu Organisasi Non Pemerintah Maluku Utara yang berdomisili di Tidore, melakukan pendampingan dan belajar bersama warga sejak tahun 2010. Proses belajar bersama ini kemudian menjadi putaran diskusi di WALHI MALUKU UTARA. 

Letak Kalaodi yang berada di punggungan bukit sebuah pulau kecil, dengan hutan yang masih padat, serta ketersediaan air melimpah, tentu memiliki peranan yang sangat penting dalam konsep bioregion (hulu dan hilir). Tradisi budaya yang masih hidup dan berjalan hingga kini, ditengah terpaan arus modernisasi zaman, ketika hutan dan bahan tambang menjadi sector primadona pembangunan pemerintah, Kalaodi hadir sebagai antithesis bahan pembelajaran untuk penyelamatan hutan dan lingkungan hidup di Maluku Utara- Indonesia - maupun global. Bahwa masyarakat yang hidup di lingkar hutan, ternyata memiliki kearifan sendiri dalam menjaga tatanan sistem ekologi yang ada.

DAMAI PAPUA KU

Papua, masih merupakan pengalihan isyu yang seksi dari rezim ke rezim (kecuali kepemimpinan Gusdur). Gusdur pada masa kepemimpinannya, berusaha menyatukan pecahan rasa yang selama 32 tahun diciptakan oleh rezim otoriter Suharto, dengan langkah damai dan persuasif. Sayangnya terlalu banyak faksi, sehingga mudah dipecah belah dengan menyulut rasa perbedaan, yang telah sekian lama terpendam. Amarah dan amuk massa menjadi alasan untuk kembalinya proses represifitas itu dimainkan kembali di tanah Papua. dan Gusdur, Sang Fenomenal itu pun harus ditumbangkan.
Jika Papua terus saja menjadi objek pengalihan isyu atas kebobrokan sistim kepemimpinan di negri ini, kuyakin suatu saat tak mampu dimanage bara sekam itu. Persatuan memang seolah sulit tergapai di bangsa Papua, namun bukan berarti momentum takkan tercipta sebagai triger tuk menuju ke arah sana. 
Saat itu terjadi, dan bisa jadi dengan melihat kondisi Indonesia yang semakin sakit ini, momentum itu kan datang jua, lalu masih adakah kata sakti NKRI itu ?

Damai Papua ku, jangan kalian sakiti yang tak mengerti, mereka hanya mencari hidup, walau rambut dan kulit mereka berbeda dengan kita, mereka juga bagian dari skenario segelintir orang yang duduk nyaman merampok kekayaan SDA kita di pusat kekuasaan, baik di Jakarta maupun di tanah Papua sendiri.
Mereka itulah musuh yang sebenar-benarnya musuh yang harus kita hancur leburkan !

Senin, 04 Juni 2012

Minggu, 22 april 2012, 'Tegang'

Setelah 3 jam berada di Pelabuhan Bitung yang cukup meresahkan, akhirnya pengumuman itu keluar juga, satu jam lagi KM Sinabung akan melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Ternate. Para buruh, pedagang asongan dan pengantar pengunjung diminta untuk segera turun dari atas kapal. Stom 2 kali pun mengaung ke udara Bitung yang telah sesak dengan asap pabrik.

Beberapa penggalan cerita yang tak sabar kutuliskan sejak tadi adalah tentang buruh bagasi, pedagang asongan dan pencopet, yang sempat membuatku tegang selama 3 jam tadi, hingga tak kuasa mencatat penggalan kisah tersebut.

Saat kapal Sinabung sandar di Dermaga Bitung, Dino, Bongki, Ical, Eros dan Mendes menjadi relawan untuk berdesakan melawan arus para buruh, agar bisa ketemu dengan Aldo, yang telah menyiapkan bekal makanan perjalanan kami menuju Ternate. Aldo telah menunggu di dermaga, sambil tak lupa membawa 'pentolan bakso' khas buatan tangannya sendiri. Tak lama perjumpaan Aldo dan kawan-kawan Malut. Kondisi kesehatannya kurang baik, maka setelah bekal makanan berpindah tangan, Aldo pun langsung pamit untuk kembali ke rumahnya.

Aldo adalah kawan baikku yang kini menjadi tulang punggung keluarga, sejak ayahnya meninggal 4 tahun yang lalu. Bisnis dagangan bakso, diambil alih olehnya. ketika kami masih sibuk mengatur agenda pendakian atau petualangan, Aldo sudah tak bisa lagi bergabung, karena seluruh waktunya habis untuk bangun di jam 4 subuh mencari daging sapi yang segar, meracik bumbu bakso, serta membuat puntelan bakso. Ibu dan adik perempuannya yang menjajakannya di pasar. waktu istirahatnya hanya siang hari, karena sore hari, ia mesti kembali bergantian dengan ibunya untuk menjaga warung bakso di halaman rumahnya di Girian Bawah-Kota Bitung.

Sementara itu, diatas kapal dek 7 lokasi basecamp kami, telah penuh dengan orang yang berseliweran. Ada yang mencari tempat, ada yang manawarkan dagangan, ada pula yang sekedar keluar masuk. Barisan penjaga basecamp kami kacau balau, karena Iji dan Alen disersi meninggalkan bunker mereka. Akhirnya, dua bunker di sisi utara yang kosong menjadi sasaran empuk para pencari tempat, juga para pencopet. Formasi pun berubah, Ido kuminta menjaga sisi Utara tepat di depan pintu, Tuty sisi Barat, sementara aku sisi Kanan dan Lita sisi kiri timur, yang tepat berada di tangga naik dan turun.
berpasang mata, banyak yang melirik kasur, juga tas. bahkan 5 orang secara terang-terangan berdiri dihadapan Lita dan terus memperhatikan Laptop serta Ipad yang berada disisinya. Hampir 10 menit mereka melakukan pshyteror, dengan bolak balik di lokasi basecamp sambil terus memperhatikan tas dan seluruh barang kami yang di tumpuk di empat bagian.

Ibarat Harimau, mereka terus mengawasi mangsanya, menunggu lemah dan lalai. 2 orang berdiri disisiku sambil terus menatapi tas dan barang bawaan kami. 2 orang lainnya berdiri di bawah tangga, seolah mencari ruang untuk bisa merogoh 2 laptop dan ipad yang memang tersandar di dinding kaca pembatas pagar, namun kemungkinan itu terrlampau sulit. Hal yang menjadi sulit adalah, aku tak bisa menuduh mereka pencuri, selama mereka belum tertangkap tangan mengambil barang kami. curiga boleh saja, tapi jangan menuduh, meski wajah mereka masih kukenali. orang-orang ini adalah pemain lama di pelabuhan Bitung, sudah sejak 7 tahun yang lalu, saat aku masih beraktivitas di Kota ini. Satu orang bahkan dengan tegas berjalan ke arahku dan menantang tatapanku. Kupikir polanya masih sama, 2 orang ciptakan keributan, mengalihkan perhatian dan kerumunan, sementara yang lain beroperasi mengamankan seluruh barang bawaan korban.

Jumlah mereka mulai bertambah menjadi 9 orang. 3 orang di pintu masuk dek 7, 2 orang di tangga, dan 4 orang berdiri di sisiku. Situasi basecamp semakin runyam, karena ada 2 orang penumpang laki-laki yang baru naik langsung menaruh tasnya di depan pintu dek 7 sebelah kanan, tepat dibawah kasur tempat tidur Eros dan Ido. tak lama berselang muncul lagi 5 orang perempuan menumpuk barangnya di tempat tersebut. 3 orang pedagang asongan juga turut meramaikan ruangan dek 7 yang hanya berukuran kurang lebih 3 X 10 M. Kusampaikan ke Lita agar selamatkan saja tas kuning yang berisikan logistik kami, serta tas laptop, jika terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. firasatku sudah sangat buruk, karena 3 orang kembali berjalan mengitari kami. Untunglah, disituasi yang kritis dan hampir meledak itu, Dino dan rombongan pemukul tiba di basecamp. Melihat jumlah kami lebih banyak (dengan muka yang sangar, karen tak mandi), akhirnya mereka meninggalkan basecamp, dan pergi entah kemana.

Kami melakukan evaluasi singkat, dan berbagi tugas. Ical menjaga tangga kanan, Eros tangga kiri, aku dan Dino di pintu keluar. Sementara Mendes, Bongki, dan Ido duduk santai diposisinya masing-masing. Iji, Alen dan Sarfan tak lagi kebagian tugas, karena desersi. mereka bertiga masuk kelompok bebas, tanpa perlu tahu skenario yang disepakati. Selain mereka bertiga, kami sepakat sebelum kapal berlepas dari dermaga Bitung, kami akan buat kerusuhan di atas kapal. Tak lama, setelah kesepakatan terbangun, keyakinanku terbukti, rombongan 7 orang aneh tadi kembali ke ruangan kami, berkeliling memperhatikan barang bawaan, seolah kami tak berada dalam ruangan itu. Psywar dibalas dengan psywar. Aku dan Eros bertelanjang dada langsung menuju tangga kapal, tempat mereka berkumpul, demikian pula dengan Ical. Ternyata, justru mereka yang lemah dan berlalu dari basecamp kami. situasi tegang, berangsur pulih. perasaan nyaman hadir kembali di basecamp Walhi Malut Dek 7 KM Sinabung.


*(Edisi Yang Tercecer di Lautan)

PUKUL 01.00 WITA

Pukul 01.00 wita, hari telah berganti. kini hari minggu, tanggal 22 april 2012, seorang anak kecil dengan panggulan karung di pundaknya, menarik perhatianku. 2 orang bocah, berlarian mengejar kawannya yang tadi. mereka berdua pun menenteng karung plastik, yang ternyata berisikan botol plastik bekas. KM Sinabung telah merapat di Pelabuhan Banggai. pedagang asongan berkaos merah, yang dibelakangnya tertulis "asongan" terus meneriakkan dagangannya.

Pelabuhan Banggai dalam rekaman memori perjalananku 11 tahun yang lalu, saat mengikuti even Prepcom di Bali, tepatnya tahun 2001, belum memiliki dermaga. Kapal yang kutumpangi saat itu hanya berlabuh. Kami masih bisa menyaksikan kepiawaian anak pesisir berloncatan dari kapal tuk berlomba mengejar uang koin seratusan yang dilemparkan ke laut.

Corong pengumuman tadi menginformasikan sesuatu yang baru dalam pendengaranku selama aku menumpangi kapal Pelni. bahwa, lama keberadaan kapal di pelabuhan banggai, tidak berdasarakan waktu, tapi tergantung penumpang yang turun dan naik. jika semua penumpang telah naik, maka kapal langsung bertolak meninggalkan pelabuhan. Hal yang menggelitik urat senyumku adalah, meski telah diumumkan berulang kali, agar pengantar, pengunjung, buruh bagasi, serta pedagang asongan segera turun dari atas kapal, namun mereka melakukan aksi tak mau turun. pluit petugas berbunyi tak henti, memaksa mereka untuk turun. hingga pengumuman ABK Dek siap muka belakang, kapal siap berangkat, berulang kali diumumkan, masih terlihat beberapa pedagang asongan menjajakan dagangannya.

Mendes, Eros, Ical dan Sarfan yang tadi bertindak sebagai relawan yang turun ke dermaga, telah kembali dengan tentengan tas plastik berisikan buras, suami (makanan khas sultra), serta ikan bakar. 12 orang pun bersantap dini hari penuh lahap. usai makan, ternyata Sinabung telah jauh dari dermaga. perjalanan kami lanjutkan menuju pelabuhan Bitung, dengan waktu tempuh 11 jam. saatnya lelap...



*(Edisi Yang Tercecer di Lautan)

MINGGU, 22 APRIL 2012

Minggu, 22 april 2012 pukul 08.00 wita, beberapa kawan masih terlelap, saat aku tersadar dari tidur malamku. Di sampingku, Lita tengah sibuk mempersiapkan alat mandinya. Pintu terbuka, Dino menampakkan wajahnya yang terlihat bingung, mungkin karena sendiri sejak pagi tadi. Dino memang yang paling dini terbangun sejak dulu. berbeda dengan 10 orang lainnya dalam rombongan Walhi Malut kali ini, termasuk juga diriku. Ido, Iji, Bongki, Mendes, alen dan Sarfan yang paling hobi menghabiskan umurnya di tempat tidur. Mereka tahan tidur berjam-jam, bahkan baru bangun sekalipun, mereka bisa kembali terlelap, untuk waktu yang cukup panjang. Ini salah satu faktor, kenapa Maluku Utara jarang dihitung dikancah pergerakan nasional. sebagian aktivisnya lebih senang membangun hayalan lewat mimpi di atas kasur.

Hal yang paling meresahkanku saat-saat diatas kapal adalah, waktu bangun tidur dan harus melakukan rutunitas mandi serta melepaskan kotoran tubuh. Kamar mandi dan WC di kapal ini sangat jauh dari kelayakan. Pintunya banyak yang rusak, sementara di dek 2, penumpang tak lagi peduli soal kamar mandi untuk wanita maupun pria. semua bercampur baur. dengan kondisi pintu yang tak bisa terkunci, sangat mengganggu kenyamanan orang yang akan melakukan ritual bersih tubuhnya. Sangat dipahami, persoalan ini bukan semata kelalaian pihak pengelola jasa perhubungan laut, tapi menurut amatanku, tingkat kesadaran kita sebagianjk penduduk Indonesia juga yang masih lemah, dalam hal merawat fasilitas publik. Selain kotor dan sering mampet, di kamar mandi juga ramai terjadi pencurian barang. Hal ini, yang membuat Mualim satu senantiasa tak bosan memperingatkan kepada penumpang untuk berhati-hati menjaga barang bawaannya. Pencurian di atas kapal juga cukup tinggi.

Usai mandi, aku bergabung dengan Lita, Dino, juga Bongki, yang telah santai menikmati laut di dek 7 bagian luar. Prediksiku, saat ini kapal Sinabung yang kami tumpangi telah berada di perairan Gorontalo. Karena telah kehabisan kaos, akhirnya kugunakan kaos biru bertuliskan WALHI  di dada, yang adalah milik istriku Lita. Sejak keberangkatan kami dari Balikpapan, kuperhatikan ada 7 orang dari kami yang tak pernah mengganti baju dibadannya. Mereka adalah, Iji, Alen, Ical, Mendes, Dino, Ido dan Sarfan. Baju yang mereka kenakan tak pernah berganti hingga kutemui pagi ini, selalu kostum Merah Walhi yang berisikan pesan di belakangnya, "Air - Energy - Pangan - Untuk Sebesar besarnya Kemakmuran Rakyat". Kembali pada diriku yang sedang menghadapi amukan Lita karena menggunakan kaos Walhi miliknya. Dengan muka tak berdosa, akhirnya kulepaskan kaos biru tersebut (karena memang sengaja mau kupamerkan otot dada dan perutku yang sixpack di muka publik, hahae :). Akhirnya akupun turut bergabung dalam barisan "Walhi Merah" pimpinan Iji. Barisan kaos "bau" yang telah 5 hari menempel di badan.

Pukul 09.20, Mendes masih terlelap layaknya sapi potong, demikian pula Eros, Sarfan, Ido dan Tuty. Sementara Aku, Lita, Dino, Iji dan Alen bersepakat menikmati pagi dengan secangkir kopi manis di ruang kavetaria dek 7 bagian belakang. Di kejauhan terlihat hutan yang gundul dan galian tambang di daratan panjang Pulau Sulawesi bagian Utara. 3 orang petugas kapal datang menghampiri kami, memeriksa tiket. Bersamaan dengan itu, di bagian belakang kanan kapal, satu perahu katinting muatan 2 orang sementara berjibaku dengan hempasan ombak dari KM Sinabung yang kami tumpangi. "Luarbiasa nelayan kita ini, begitu jauh mereka harus mengais rejeki, berjudi dengan laut, untuk menyediakan sumber protein di meja makan kita", celoteh Lita atas fenomena katinting tadi. Daratan cukuplah jauh dari posisi keberadaan kapal kami. "Mereka memang tangguh", ucap Iji menambahkan.

Kavetaria mulai ramai dengan kehadiran Eros dan Ical yang sudah terlihat segar usai mandi. Cerita tentang hari bumi mulai berkembang tanpa arah, karena Kartini pun ingin mengambil peran. Dino mengusulkan untuk menulis Propaganda di karung putih yang menjadialas tidur kami, kemudian berkeliling kapal. Lain lagi usulan Lita, menurutnya lebih baik kita minta ijin untuk menggunakan corong informasi, menyampaikan pesan-pesan tentang hari bumi, dan rusaknya ekologi. Hampir semua Kru kapal, termasuk Kapten dan Mualim hingga dokter di Poliklinik telah tahu, bahwa dalam pelayaran kali ini, terdapat rombongan penggiat Lingkungan Hidup dari Maluku Utara (sesekali berlagak besar dengan Walhi kan boleh juga to, hahae :). Lita dan Tuty bahkan diijinkan masuk ke ruang kemudi, yang aksesnya sangat terbatas bagi penumpang. Berdiskusi dengan kapten dan Mualim tentang Walhi, juga tentang hal ihwal bagian dalam ruang kemudi di anjungan kapal. Tapi, kuyakin apapun diskusi tentang hari bumi di ruang kavetaria ini, takkan berakhir pada langkah nyata aksi praksis diatas kapal.

"Ironisnya, Dinosaurus musnah karena faktor eksternal dirinya, kehidupan manusia terancam musnah karena sistim ekonominya sendiri (ekonomi kapital)", demikian penggalan status FB kawanku Pius Ginting pagi ini yang menggugat kalimat "Bumi makin tua dan Rusak adalah tidak tepat". Kawanku yang satu ini, memang luarbiasa kritis dan substantif dalam perspektif KeWalhi-an dalam memandang setiap moment.

Cuaca disebelah kanan kapal terlihat mendung, sementara di sisi kiri yang adalah bagian daratan Sulawesi, sangat terik dengan sengatan matahari. Suhu di kavetaria dek 7 mulai tak nyaman. Dino, Iji, Ical dan Alen memilih kembali ke basecamp, sementara aku, Eros dan Lita masih bertahan dengan suasana kafetaria yang mulai riuh dengan segala jenis lagu, layaknya pasar musik di stasiun 45 Manado. Mendes bergabung dengan kami bertiga. Rambut kribonya tetap tak rapi meski telah usai mandi, matanyapun masih terlihat merah :). Mendes hadir tidak untuk berdiskusi soal Hari Bumi yang jatuh hari ini, atau Hari Kartini yang jatuh hari kemarin, tapi sibuk menanyakan tawaran informasi kapal tentang makan siang :). Bukan Mendes tak peduli terhadap hari Bumi,tapi karena memang ia tak pernah tahu kapan hari lingkungan hidup, hari bumi, dan perayaan hari-hari lingkungan lainnya.

Tapi sejujurnya, bukan hanya Mendes, tapi semua yang ada dalam rombongan Walhi Malut kali ini tak mengetahuinya, selain aku dan Lita yang sudah sejak zaman kuliah dulu merayakannya dengan aksi-aksi jalanan. Hal ini menjadi wajar Karena mereka semua belum lama bersentuhan dengan even dan persoalan Lingkungan Hidup, sebelum bergabung dengan Walhi Malut.

Waktu menunjukkan pukul 11.45 wita, kurang lebih 2 jam lagi KM Sinabung yang kami tumpangi kan sandar di Dermaga Bitung. Telah ku kontak Aldo, kawan lamaku di Mapala dulu, untuk bisa menyediakan bakso buatan tangannya, serta sedikit bekal buat kami, dalam melanjutkan perjalanana sebentar nanti dari Bitung menuju Ternate.



*(Edisi Yang Tercecer di Lautan)

MASIH DI HARI YANG SAMA

masih dihari yang sama, penghujung sabtu, 21 april 2012, pukul 23.35 wita, corong informasi kembali berbunyi, mengumumkan bahwa 1 jam lagi KM. Sinabung akan merapat di Dermaga Banggai. Bongky terlelap dengan nyaman, Ical menggantikan posisiku dengan Lita di lorong ruang nginap para pembesar Sinabung, tempat kami menumpang charge segala peralatan elektronik yang kami miliki. Ido masih sibuk naik turun keliling kapal mencari sang buah hatinya Tuty, yang sekonyong-konyong lenyap. Mendes, alen dan Dino, lebih memilih menghabiskan malamnya di ruang kavetaria dek 7 bagian belakang. Sementara Eros, baru usai menghabiskan waktunya di ruang teater dek 2, menonton film tentang perselingkuhan. Iji, yang hampir luput dari pantauan, ternyata berada di ruang karaoke dengan dandanan parlente, menonton lomba menyanyi antar kru kapal, dalam rangka memperingati harlah Pelni. Sarfan dan Tuty, akhirnya diketahui berada di bagian depan, dibawah tangga anjungan, sementara asyik mengisi TTS.

pukul 22.00 wita tadi, Lita sempat menemani Tuty ke Poliklinik yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat kami. dokter yang memeriksa Tuty mengaku dulunya anak Mapala Undip, dan dia mengenal Walhi. vonisnya, Tuty terkena radang tenggorokan, karena terlalu banyak menghirup asap rokok. tapi menurutku, selain asap rokok, Tuty juga pasti masuk dingin. hari kemarin, sarfan juga sempat mengalami demam, saat rombongan kami baru naik ke kapal. pola tidur dan makan yang tidak teratur selama seminggu di arena PNLH, mulai membuahkan hasil. beberapa pasukan mulai bertumbangan.

10 menit setelah pengumuman, aku bersama Lita keluar ruangan, duduk nyantai di pagar kapal dek 7, tepat dibawahnya tertulis, "dilarang duduk diatas pagar kapal", hehehe, tapi kami berdua cuek saja. Lita, kawan diskusi yang juga adalah istriku, mencoba mengimbangi celotehanku tentang hal-hal yang menyangkut persoalan PNLH XI Walhi di Balikpapan yang telah lewat. "Aku menggugat", igauku padanya, sambil memandang jejeran cahaya lampu di ujung kegelapan malam. "Menggugat apa?", tanya Lita, yang juga mengarahkan pandangannya pada kerlipan cahaya di ujung kegelapan. "Menggugat keteledoranku, sejak awal mula persiapan menghadapi even PNLH ini mulai dideklarasikan 3 bulan lalu". Hening, tak ada balasan darinya. corong informasi kembali berbunyi, "30 menit lagi Kapal Sinabung akan merapat di dermaga Banggai". Diskusi kami terputus, karena dek 7 bagian luar tempat kami menikmati malam, mulai ramai dipenuhi penumpang kapal yang lain.

Pukul 00.20, pengumuman kembali berbunyi, " ABK Dek siap muka belakang, kapal sandar kiri, kapal sandar kiri", lalu kami berdua kembali ke ruangan bagian dalam, tempat dimana segala barang bawaan dan kasur kami berada. Kulepas pengait pintu dan membiarkannya tertutup, hanya untuk menjaga kemungkinan lenyapnya harta benda kami oleh tangan-tangan usil. ingat pesan bang napi, kejahatan terjadi karena ada kesempatan, Waspadalah, waspadalah !!! dan kapal pun sandar di pelabuhan Banggai.



*(Edisi Yang Tercecer di Lautan)

Jumat, 29 Juli 2011

- SAKiT -

Senantiasa kubaca, dan kubaca setiap keluh itu. Tergambar dalam tiap helaan kata yang berhembus membisikkan sakit. Terkapar dalam selimut yang membaluti tubuh lemah, kau senantiasa bernyanyi tentang harapan hati. Juga galau yang terpendam. Sakit itu membunuh asa, tapi tak mematikan jiwa. Demikian pula cinta.

Hujan membasuh daratan tempatku berdiam malam ini. Malam dimana aku membaca guratan itu. Di seberang, lantunan nada dan suara Iwan Fals dan Fadli Padi memecah kebisuan. Temui cinta, lepaskan rasa.

Ingin rasanya berlagak bak seorang nabi, menuntun umatnya ke jalan yang ia yakini sebagai ruang kebenaran. Namun, tak cukup teori dan pengetahuan, serta tak punya pula diriku akan kitab yang disucikan, pula kalimat bijak dan fatwa penunjang yang menunjang daku tuk berlagak. Yang kupunya hanyalah hati, melonjak menari dalam kebebasan. Melihat, mengamati, lalu menuliskannya kembali. Seperti malam ini, melihat catatan keluh mu itu, ingin rasanya ku menjadi seorang nabi.

Sakit memang terkadang membuat kita apatis memandang hidup. Demikian pula atas cinta yang mulai menjauh. Sang ego senantiasa menguasai diri. Penguasaan yang sering kita nafikkan keberadaannya. Ketika kita lemah, karena eksternality diri, yang menopang bagian jiwa kita berlalu dari keseharian dan kebersamaan, sang ego kan berontak, menjatuhkan kita sampai pada titik kesedihan yang tak terperi. Ternyata rasa cinta dan kepemilikan, bukanlah kita peruntukkan pada bagian hidup yang terpisah dari internal diri, melainkan rasa yang mesti hadir akibat tuntutan ego. Kita mencintai diri kita sendiri, yang tak mau lemah dan kehilangan kepemilikan. Sakit itu, menjadi sakit diri yang tak ingin ditinggalkan olehnya.

Mungkin tidak untuk dikau, yang saat itu terbaring lemah di pelataran ruang ber cat putih, saat para pekerja berseragam, mulai mengutak - atik tubuh lemahmu. Imajimu berkisah, kau tak kan lagi memilikinya, karena terpuruk dalam sakit yang terus menggerogoti paruh waktu hidup. Mencuri sebagian harta tubuh, sebagai bagian dari identitas kewanita-an. Imajimu melahirkan goresan keluh, dan tanpa disengaja aku membacanya.

Satu yang kukagumi, kau terus menulis. Menulis dengan wajah yang senyum, meski hati galau dalam ringisan nasib. Temui cinta, lepaskan rasa. Temui cinta dalam dirimu, dan lepaskanlah rasa. Sebab, sang cinta yang menyakiti, senantiasa bersembunyi dengan tenang dalam internality jiwa. Kenyataan itu pahit, kenyataan itu sangatlah pahit...teriak Iwan Fals dalam sesuatu yang tertunda..., namun tak senantiasa mesti terus membuat kita terpuruk dalam keluh...

--------------------------- Kaki Gamalama yang basah di gerbang ramadan 30 juli 2011 (Itevsky*)